Bike 2 Sakolaan

March 11th, 2009 ush 2 comments
ugi_b2s2

siap-berangkat

ADZAN subuh belum lagi usai, saat pintu kamar terbuka, Juma, 6 Maret 2009. “Bah, jadi gak sepedaan ke sekolah?” suara si Aa Ugi. Walah, semangat juga dia. Sebenarnya sudah lama dia minta izin sepedaan ke sekolahnya. Selama ini, ditolak secara halus. Bukan cuma jarak rumah-sekolah alias Permata Pamulang- Lazuardi Cinere yang sekitar 12 kilometaran, tetapi tahu sendiri gimana edannya angkot atau sepeda motor di jalanan. Alasan keamanan diutamakan aliasĀ  prioritas. Rada khawatir juga. Apalagi beberapa teman menyarankan, dengan kondisi maut lalu lintas itu, sepedaan buat si Ugi sih mending buat olah raga aja dulu alias gowes weekend-an. Masalahnya, dia sering enggak ikut sepedaan akhir pekan karena kita sepedaan biasanya hari Sabtu. Nah, sementara hari Sabtu dia masih lumayan sibuk kudu les bahasa segala. Padahal yang namanya sepedaan, dia tuh udah kayak makan-minum: wajib hukumnnya. Read more…

Categories: Sasapedahan Tags: ,

Ada Yudhoyono di Mana-mana

March 4th, 2009 ush No comments

SERIBU SATU cara terlalulah sedikit untuk meluncurkan berbagai macam jenis kampanye. Saya sendiri merasa amat terkepung. Ke mana mata mengarah, searah putaran jam selalu dihadapkan pada poster-poster, spanduk dan baliho. “Keluhan” ini bukan hal baru, banyak warga masyarakat yang diam-diam mengalami stress dan terkena calegcapresphobia. Telinga juga hampir mampat dijejali, nyanyian dan slogan kampanye.
Televisi kurang apa lagi. Bukan cuma melulu berita artis cerai-berai atau selingkuh rebutan “anu” — anu di sini maksudnya bisa apa saja, dari harta gono gini sampai harta gini-gini aja..– tetapi juga iklan-iklan kampanye. Read more…

Happy Biker !

February 25th, 2009 ush No comments

IMG_0473.JPG

WAKTU saya kecil, uwak saya adalah seorang penjual-beli sepeda. Abah Anda namanya. Seringkali dia mampir ke rumah saya karena memang kampungnya tidak seberapa jauh. Biasanya dia memang menggunakan sepeda. Seringkali sepedanya berganti-ganti. Sekedar mengopi siang atau mengobrol, mendongeng apa saja dengan kami, para keponakannya. Lain kali, dia akan meminta mencabuti ubannya. Tentu saja dengan upah. Saya tidak ingat persis, berapa rupiah jumlahnya. Tetapi setiap kali selesai kami mencabuti uban-ubannya, selalu dia bilang, tabung dulu ya nanti kalau sudah banyak baru dibayar. Tetapi kami lebih suka meminta “upah” dengan merayu dia agar membolehkan menggunakan sepeda-sepeda kesayangannya. Read more…

Hello world!

February 19th, 2009 admin No comments

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories: Uncategorized Tags: