<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>agushermawan &#187; Sasapedahan</title>
	<atom:link href="http://agushermawan.com/category/sasapedahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agushermawan.com</link>
	<description>"Blog Belum Jadi"</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 10:02:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Garing.com &#8212; Gowes Jakarta-Palembang (4)</title>
		<link>http://agushermawan.com/2011/12/14/garing-com-gowes-jakarta-palembang-4/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2011/12/14/garing-com-gowes-jakarta-palembang-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 08:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Banyak cerita garing, lucu, ngeselin di sepanjang perjalanan. Lumayan menghibur di saat nafas habis dan dada terbakar diperkosa tanjakan-tanjankan dan rolling-rolling panjang Ginseng Ngantuk Salah seorang penggowes senior peserta JSJP yang dipanggil Pak Yos terlihat gowes selalu menggunakan teknik dengan power, bukan ngicik (candencing) seperti yang lain. Rupanya, belakangan dia mengaku mengkonsumsi ginseng untuk menjaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak cerita garing, lucu, ngeselin di sepanjang perjalanan. Lumayan menghibur di saat nafas habis dan dada terbakar diperkosa tanjakan-tanjankan dan rolling-rolling panjang</p>
<p><strong>Ginseng Ngantuk</strong></p>
<p>Salah seorang penggowes senior peserta JSJP yang dipanggil Pak Yos terlihat gowes selalu menggunakan teknik dengan power, bukan ngicik (candencing) seperti yang lain. Rupanya, belakangan dia mengaku mengkonsumsi ginseng untuk menjaga staminanya.</p>
<p>Nah,  Yana peserta dari KGC pun penasaran. Dia merengek meminta rahasia kesaktian Pak Yos itu. Di etape ke-5 (Baturaja-Tanjungenim), Yana pun mengunyah ginseng sebesar ujung jari itu. Hasilnya ? Dia malah terlihat loyo dan tak berdaya. “Kayaknya, salah ginseng deh. Bukan ginseng kuat, tapi gue dikasih ginseng cepat tidur,” kata Yana pasrah.</p>
<p><strong>Nasi Boks</strong></p>
<p>Tahukah Anda, salah satu trauma yang “ditakutkan” para peserta JSJP? Bukan tanjakan atau cuaca panas dengan empat matahari di atas kepala, melainkan nasi boks! Ha..ha, untuk kemudahan panitia memang menyediakan nasi boks untuk makan . Bukan saja makan siang, tetapi makan malam. Isinya memang sangat memadai, memenuhi syarat gizi.</p>
<p>“Tetapi pas liat boks, udah nebak-nebak isinya apa” kata seorang peserta. Beberapa di antaranya, suka sengaja mencari sop atau kuah panas di luar hotel.  Beruntung panitia cepat tanggap, di beberapa etape nasi boks pun lenyap dan berganti dengan menu prasmananan. Resikonya, hidangan cepat ludes karena penggowes perutnya seperti sumur semua.</p>
<p><strong>Etape palsu</strong></p>
<p>Salah satu etape terberat dan terpanjang adalah etape Kotabumi-Baturaja, lengkap dengan tanjakan dang owes malam alias night ride. Di status FB, di Twitter peserta pun ramai sejak pagi ditulis, etape 3: 147 km berdasarkan ageda panitia. Lha, gowes sampai pukul 19.00 lewat dan tiba di Martapura, tim sudah menggowes 147 km ternyata belum nyampe ke Baturaja. Padahal jarak antara Kotabumi-Baturaja itu sekitar 30 km. “Kita emang akan NR sejauh itu,” ujar seorang panitia dengan wajah tanpa dosa. Lha, berarti jaraknya bukan 147 km dong.</p>
<p>He..he rupanya, panitia sengaja ngapusi peserta tidak mengubah jarak Kotabumi-Baturaja menjadi 167,5 km. “Kalao ditulis bisa komplen tuh mereka,” Rupanya bukan Ayu Tingting saja yang mencari alamat palsu, jarak etape pun bisa palsu  wkwkwkw….<span id="more-133"></span></p>
<p><strong>Didorong-Mendorong</strong></p>
<p>Tanjakan di sejumlah etape, seperti di Bakahuni, Bukit Kemuning atau Simpang Meo terus terang saja membuat lutut copot dan dada terbakar. Sementara tim harus tetap dalam satu rombongan besar.  Nah, untuk itu memang ada tim kuda yakni para marshal yang membantu mendorong peserta yang tercecer. “Enggak malu didorong, Mas? “</p>
<p>Alasannya gampil: “Enggaklah, gue kan enggak minta didorong dan  demi kekompakan tim…”</p>
<p><strong>Mabok laut</strong></p>
<p>Boleh aja menyebut diri jago gowes dan kuat di tanjakan. Tetapi soal mabok laut ternyata tanpa pandang dengkul. Sejumlah peserta ternyata pucat pasi saat menyeberang dari Merak_Bakauhuni. “Gue mending naek helikopter deh dari pada naek kapal ferry,” ujar seorang KGC senior, Wajahnya pucat dan air matanya keluar setelah mendapat “jackpot” alias muntah akibat mabok laut.</p>
<p>Belakangan dia beralasan mabok laut itu, modus saja. “Kalau gue enggak kuat nanjak kan maklum, gw lemes karena mabok laut……”</p>
<p><strong>Ontel remaja</strong></p>
<p>Di Jakarta dan kota-kota lain, para penggemar sepeda onthel umumnya sudah mirip sepedanya: berpenampilan tuwir alias jadul. Pakaiannya pun seringkali bergaya jaman perjoeangan dulu. Eh, di Kotabumi Lampung Utara enggak lo. Di kota ini, para penggemar onthel ternyata bocah-bocah SMP, SMA. Sepedanya pun enggak kalah kelir, dicat beragam seperti sepeda fiksi. Moral cerita: sepeda tidak membedakan umur… he..he</p>
<p><strong>Gowes Jablay</strong></p>
<p>Untuk  menjaga kekompakan dan semangat, tim JSJP mempunyai yel “Gowes Jamblang! Maju terus, sampai tujuan!” Di saat tenaga habis terkuras, atau dilanda kebosanan biasanya salah dua orang akan meneriakan “Gowes Jamblang!” yang lain akan menjawab rame-rame “Maju terus, sampai tujuan!”</p>
<p>Yel itu lumayan ampuh kalau diteriakan pagi hari. Cuma semakin siang, bukan saja sepi jawaban, yel pun terkadang berubah, “Gowes Jablay…. ! Maju terus, sampai tanjakan….” (abah, InfoKita, eds November 2011)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2011/12/14/garing-com-gowes-jakarta-palembang-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>”Fun Bike” Terpanjang! &#8211; Gowes Jakarta-Palembang (2)</title>
		<link>http://agushermawan.com/2011/12/14/fun-bike-terpanjang-gowes-jakarta-palembang-2/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2011/12/14/fun-bike-terpanjang-gowes-jakarta-palembang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 08:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[”Fun Bike” Terpanjang! Bagi yang tidak terbiasa bersepeda, umumnya terbayang pun tidak menjalani perjalanan sepanjang 820 km dalam tujuh etape dengan kontur jalan beragam, rolling, menurun dan menanjak. ”Enggak kebayang! Enggak akan kuat deh, ” komentar beberapa orang. Sebaliknya, bagi para pencinta olahraga bersepeda, perjalanan dengan jarak panjang—dikenal dengan touring—merupakan tawaran yang menantang. ”Yang penting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>”Fun Bike” Terpanjang!</strong></p>
<p>Bagi yang tidak terbiasa bersepeda, umumnya terbayang pun tidak menjalani perjalanan sepanjang 820 km dalam tujuh etape dengan kontur jalan beragam, rolling, menurun dan menanjak. ”Enggak kebayang! Enggak akan kuat deh, ” komentar beberapa orang. Sebaliknya, bagi para pencinta olahraga bersepeda, perjalanan dengan jarak panjang—dikenal dengan touring—merupakan tawaran yang menantang. ”Yang penting bagaimana mengelola tenaga saja. Mirip fun bike dengan rute panjang. Lagian, kita tinggal gowes saja, tidak memikirkan yang lain,” ujar Cak Kris, peserta dari Kompas Gramedia Cyclist (KGC), mengibaratkan.</p>
<p>Tidak mengherankan jika panitia kewalahan menerima pendaftaran mereka yang berminat mengikuti JSJP. Bahkan, banyak di antara mereka yang bersedia membayar asalkan bisa ikut serta dalam perjalanan kali ini. Sejumlah pesepeda bahkan ”menguntit” tim jelajah. Satu rombongan mengikuti etape pertama Jakarta-Merak. Sementara pesepeda dari Bukit Asam, Muara Enim, mengikuti tim dari Prabumulih hingga Palembang.</p>
<p>Mereka yang berasal dari Jakarta beruntung karena bisa berlatih bersama setiap akhir pekan dengan menu 90-100 km. ”Latihan bersama itu lebih untuk menyamakan irama saja sehingga kami bisa kompak,” kata RC Marta Mufreni yang merangkap pelatih tim. Marta bukannya tidak khawatir dengan rombongan besar perjalanan kali ini. ”Untungnya, sebagian besar, 24 peserta, berasal dari KGC sehingga rombongan besar bisa cepat cair,” katanya.</p>
<p>Dalam waktu singkat, rombongan yang berasal dari sejumlah komunitas dan kota itu bisa padu dalam tim yang utuh. Solidaritas dan kebersamaan yang tinggi juga terlihat dari aksi bahu-membahu membantu mereka yang mengalami kelelahan, terutama di tanjakan-tanjakan panjang dan tajam. Selain ketahanan fisik yang bisa dilatih, satu hal penting dalam perjalanan panjang sepeda, seperti JSJP, adalah mental tidak kenal menyerah.</p>
<p>”Semua pasti bisa melakukan perjalanan seperti ini. Tinggal mentalnya saja disiapkan,” ujar Marta. Jika mental tidak siap, ya sudah pasti mental ya, Om? (ush)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2011/12/14/fun-bike-terpanjang-gowes-jakarta-palembang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengayuh Kebersamaan &#8212;  Gowes Jakarta-Palembang (1)</title>
		<link>http://agushermawan.com/2011/12/14/mengayuh-kebersamaan-gowes-jakarta-palembang-1/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2011/12/14/mengayuh-kebersamaan-gowes-jakarta-palembang-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:22:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Berjalanlah sejauh kamu mampu, di perjalanan, kamu akan mengetahui siapa kamu sesungguhnya Saya beruntung bisa mengikuti sebuah perjalanan sepeda cukup jauh, sekitar 820 km. Tidak sendirian memang, tetapi menjadi salah seorang dari 52 orang penggowes peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta &#8211; Palembang 3-9 November 2011. Beberapa teman sudah menuangkan kesan-kesan perjalanannya, dalam Facebook atau blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Berjalanlah sejauh kamu mampu, </em></p>
<p><em>di perjalanan, kamu akan mengetahui siapa kamu sesungguhnya</em></p>
<p>Saya beruntung bisa mengikuti sebuah perjalanan sepeda cukup jauh, sekitar 820 km. Tidak sendirian memang, tetapi menjadi salah seorang dari 52 orang penggowes peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta &#8211; Palembang 3-9 November 2011.</p>
<p>Beberapa teman sudah menuangkan kesan-kesan perjalanannya, dalam Facebook atau blog mereka. Saya menuliskannya laporan sederhana yang dimuat di Kompas, Selasa, 15 Nov 2011   Halaman: 37</p>
<p><strong>Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang 2011:</strong></p>
<p><strong>Mengayuh Kebersamaan</strong></p>
<p>Tidak ada suara canda seperti tadi siang. Di malam gelap dengan jalanan ”rolling”, naik turun panjang, hanya terdengar suara kayuhan dan gesekan rantai ke ”sproket”. Lampu tidak terlalu terang menerangi jalanan yang banyak berlubang. Konsentrasi penuh, mengayuh, mata awas melihat putaran roda sepeda teman seperjalanan di depan.</p>
<p>Malam gelap gulita itu, kami, tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang (JSJP), harus menyelesaikan sekitar 30 kilometer etape ke-6 Kotabumi-Baturaja (167,5 km). Selepas isya, setelah diterima komunitas sepeda Martapura, kami harus menempuh perjalanan malam (night ride).</p>
<p>Tiba-tiba saja seorang marshal bermotor menghampiri Road Captain (RC, pemimpin perjalanan) Marta Mufreni, ”Ada yang jatuh!” Suasana terasa lebih mencekam. Kami semua menepi ke sisi kiri jalan. Kekhawatiran Aiptu Bader Balvas&#8211;dari Satuan Patwal Mabes Polri yang berada di depan rombongan pesepeda JSJP&#8211;bahwa perjalanan malam perlu kewaspadaan tinggi karena rawan kecelakaan terjadi juga.</p>
<p>Seorang peserta jatuh karena mengerem mendadak. Untung, Anton Sanjoyo dari Kompas Gramedia Cyclist tidak cedera akibat kecelakaan kecil tersebut. ”Saya benar-benar ngeri. Perjalanan ini sangat bahaya dan saya terus terang tegang. Kesalahan sedikit bisa mengakibatkan kecelakaan beruntun dan fatal,” ungkap Bader setelah perjalanan usai dengan selamat.<span id="more-122"></span></p>
<p>Etape Kotabumi-Baturaja memang merupakan etape terpanjang dari tujuh etape lain yang hanya berjarak sekitar 100 km setiap etape. Perjalanan etape ini menjadi spesial pula karena sekitar 30 km di antaranya harus dilalui dengan perjalanan malam menembus hutan dengan jalanan berlubang di sana-sini. Perjalanan Kotabumi-Martapura saja sudah menguras tenaga. Tanjakan-tanjakan panjang menjelang Bukit Kemuning serta jalanan yang umumnya berkontur rolling lumayan membuat dada terasa panas karena energi terkuras.</p>
<p>Di Martapura, RC Marta sebenarnya sudah memberi tawaran kepada 52 peserta JSJP, termasuk tiga perempuan penggowes. ”Jangan memaksakan diri. Jika memang merasa kelelahan dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke Baturaja, peserta boleh naik mobil evakuasi,” ujarnya. Apalagi, salah seorang peserta setiba di Martapura mengalami kram perut. Tiga orang lainnya juga tidak direkomendasikan dokter untuk meneruskan perjalanan. Namun, kenyataannya, semua peserta bersemangat untuk meneruskan perjalanan.</p>
<p>Semua peserta akhirnya tiba selamat di Baturaja, sekitar pukul 20.20.</p>
<p>Walaupun dari segi jarak tidak lebih panjang daripada dua jelajah sepeda Kompas sebelumnya, JSJP ini terasa istimewa. Dua jelajah sepeda sebelumnya, Anyer-Panarukan dan Surabaya-Jakarta, berjarak tempuh 1.000 km. Sementara JSJP yang berlangsung pada tanggal 3-9 November lalu tidak saja diikuti peserta paling banyak, mencapai 52 orang, tetapi juga merupakan perjalanan sepeda lintas Pulau Jawa-Sumatera.</p>
<p>Para peserta berasal dari beberapa komunitas sepeda dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Lampung, dan Palembang dengan beragam profesi, mulai dari karyawan swasta, guru, wartawan, wiraswasta, hingga dua orang dari Kopassus serta seorang dari kepolisian.</p>
<p>Nasionalisme</p>
<p>Selama tujuh hari, kami menapaki tujuh etape, Jakarta-Merak-Kotabumi-Baturaja-Muara Enim- Prabumulih dan berakhir di Palembang, dengan jarak keseluruhan 820 km. Perjalanan sepeda Kompas kali ini pun tidak melulu untuk lebih memasyarakatkan kesadaran masyarakat kembali menggunakan sarana transportasi sepeda, tetapi lebih untuk menyemarakkan SEA Games XXVI di Palembang dan memberikan semangat kepada para atlet yang berlaga dalam pesta olahraga Asia Tenggara tersebut.</p>
<p>Sepertinya upaya untuk ikut menyemarakkan SEA Games ini lumayan berhasil. Setidaknya hal itu terasa di sepanjang perjalanan, masyarakat menyambut kami dengan meriah. Teriakan-teriakan pemberi semangat saling kami teriakkan dengan masyarakat sepanjang jalan. ”Indonesia! Indonesia pasti bisa! Hidup Indonesia!”</p>
<p>Lucu juga rasanya, di antara teriakan-teriakan itu ada juga yang memberi semangat seolah-olah kami atlet sepeda beneran. ”Ayo, kamu pasti dapat emas. Indonesia juara!” Hasilnya lumayan, teriakan-teriakan seperti itu sering kali menjadi pemompa semangat kami saat tenaga terkuras karena tanjakan-tanjakan panjang. Rasa nasionalisme yang membuat bungah hati untuk semakin bersemangat menyelesaikan misi JSJP.</p>
<p>Sambutan ramah masyarakat juga terasa saat kami beristirahat sejenak untuk makan siang atau mengambil napas setelah didera tanjakan panjang. Di sebuah tempat selepas Bukit Kemuning malah ada warga yang membolehkan kami memetik rambutan dan mangga di halaman rumahnya. Sambutan dari komunitas sepeda di sejumlah kota, mulai dari Bandar Lampung, Kotabumi, Martapura, Muara Enim, Prabumulih, hingga Palembang, mempererat rasa persaudaraan. Tidak jarang mereka mendatangi kami di hotel pada malam hari untuk sekadar bersilaturahim dan memberi semangat.</p>
<p>Perjalanan menyusuri jalanan jalur tengah lintas Sumatera ternyata juga menanamkan rasa cinta kepada negeri. Melihat anak-anak sekolah bertelanjang kaki di sepanjang jalan berteriak-teriak memberi kami semangat menyisakan bukti bahwa negeri ini belum selesai dibangun. Kemerdekaan belum dirasakan semua warga masyarakat negeri ini.</p>
<p>Perjalanan panjang sudah selesai dilakukan. Kami tiba sehari sebelum pelaksanaan SEA Games XXVI di Palembang. (Agus Hermawan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2011/12/14/mengayuh-kebersamaan-gowes-jakarta-palembang-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Tersesat saat Gowes</title>
		<link>http://agushermawan.com/2011/09/06/tersesat-gowes-2/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2011/09/06/tersesat-gowes-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 10:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Alam mempunyai kearifan sendiri, bersahabatlah dengannya. Awan begitu rapat, menghalangi pemadangan saat kami—sekitar 17 orang – menikmati trek Curugpanjang- Telaga Warna  di kawasan Puncak, Minggu (10/01/2010). Jarak pandang hanya sekitar 10 meteran saja. Hujan merintik (drizzle) menemani kami. Pada saat terang hari trek mengasyikan di kebun teh itu sangat indah dinikmati. Namun saat cuaca kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alam mempunyai kearifan sendiri, bersahabatlah dengannya.</em></p>
<p>Awan begitu rapat, menghalangi pemadangan saat kami—sekitar 17 orang – menikmati trek Curugpanjang- Telaga Warna  di kawasan Puncak, Minggu (10/01/2010). Jarak pandang hanya sekitar 10 meteran saja. Hujan merintik (<em>drizzle</em>) menemani kami. Pada saat terang hari trek mengasyikan di kebun teh itu sangat indah dinikmati. Namun saat cuaca kurang bersahabat memerlukan kehati-hatian yang ekstra. Bukan saja resiko terpeleset, tetapi resiko salah arah pun sangat memungkinkan. Teman di depan sejarak lebih dari 20 meter saja tidak kelihatan !</p>
<p>Benar saja, selepas jalan di antara kebun teh di sebuah pertigaan, setelah menggowes 3 kilometer, <em>road captain</em> di depan menghentikan kami. “Stop, stop pertigaan tadi seharusnya kita lurus bukan belok sini,” kata Fami, yang bergantian dengan Agus Surono menjadi RC. Beruntung, kebiasaan kami, selalu membawa radio komunikasi jika menempuh perjalanan offroad. Turunan yang baru saja dicumbui itu pun dihentikan dan kami harus kembali, menanjak menuju jalan yang seharusnya.  “Kita seharusnya menuju SD Cikoneng,” kata Gusur,</p>
<p>Gusur memang membekali dirinya dengan GPS. Jika tidak bukan tidak mungkin, jika tidak membawa perangkat penjejak trek itu, kami akan “kesasar” ke arah yang bukan dituju. Selanjutnya, kejadian salah jalan seperti itu biasanya menjadi canda atau ejek-ejekan di antara penggowes.<span id="more-109"></span></p>
<p><strong>Sering terjadi</strong></p>
<p>Kejadian tersesat atau kesasar bukanlah hal aneh di antara penggowes <em>cross country</em>. Akhir Desember lalu, seorang teman saya, juga tersesat saat menggowes di kawasan Cikole, Lembang. Gun, teman itu, menggowes pada sore hari dari kawasan bumi perkemahan (<em>camping ground)</em> Cikole pada sore hari. Keasyikan menggowes, dia tidak menyadari hari menggelap dan kehilangan orientasi. Upaya meneruskan trek menjadi sia-sia, karena dia juga pertama kali menggowes di kawasan itu.</p>
<p>Beruntung, telepon genggamnya bisa berfungsi sehingga bisa menghubungi teman-teman untuk mencari bantuan. Setelah meninggalkan sepeda kesayangannya di hutan, dia berjalan kali dan mencari kampung terdekat. Gun selamat dan bisa menemukan kampung terdekat sekitar pukul 21.30 malam (!). Untuk kembali ke Cikole, dia mendapat bantuan dari rekan-rekan pencinta alam Palawa Unpad Bandung yang menjemputnya untuk kembali ke “peradaban”.</p>
<p>Gun, bukanlah penggowes pertama yang “tersesat”. Beberapa goweser mengalami hal serupa. Menurut penuturan Ratih Prahesti, wartawati Kompas yang bertugas di Bogor, di kawasan Gunung Pancar, Pondok Pemburu dan sekitarnya, kejadian penggowes tersesat seringkali terjadi.</p>
<p>&#8220;Pernah, petugas menemukan kelompok pesepeda&#8211; mungkin ada 11 orang&#8212; ditemukan sekitar jam 23 malam! Mereka ditemukan dalam keadaan kepayahan, tidak ada makanan dan minuman,&#8221; ceritanya. Polisi umumnya menerima laporan kehilangan dari keluarga atau kerabat para penggowes yang tersesat tadi.</p>
<p>Pernah pula, satu kelompok biker ditemukan setelah radio komunikasi para penggowes di Gunung Pancar terhubung dengan anggota Orari di kawasan Bekasi (!), juga malam hari. “Mereka ditemukan setelah pihak Orari Bekasi, berkoordinasi dengan polisi di kawasan Sentul,” kisah Ratih.</p>
<p>Kawan-kawan saya di KGC juga ada yang sempat tersesat di kawasan Gunung Pancar itu. Saya yang pernah dua kali ke mencoba trek tersebut. Sekilas memang dipastikan, untuk menikmati XC di kawasan itu perlu guide atau pendampung dari  mereka yang pernah menggowes ke sana, terutama dari arah Pondok Pemburu ke Gunung Pancar. Bukan melulu, trek yang sulit untuk digowes, mungkin sekitar 60-70 persen punggungan gunung, yang licin dan menurun tajam seusai hujan. Beberapa ruas lintasan juga, sudah terhalang alang-alang. Jika tidak bersama orang yang berpengalaman atau pernah ke sana, niscaya tidak akan percaya jalan tersebut bisa dilintasi. Belum lagi begitu banyak cabang-cabang jalan. Trek yang terlihat sering dilewati, bahkan, bisa mengantar kita ke arah tersesat.</p>
<p>Biasanya kita mentertawakan dan mengolok-olok kejadian tersesat itu, setelah kita selamat. Tetapi rasanya, perlu diingatkan, tersesat di hutan&#8211; dalam kegiatan outdoor seperti sepedaan di hutan&#8211; bisa berakibat fatal.</p>
<p>Bersepeda XC, off road memasuki kawasan hutan apa pun, harus disamakan dengan kegiatan alam bebas lainnya..  Intinya, pengetahuan mengenai sepeda kita rupanya tidaklah cukup untuk menjelajah trek liar atau ekstrem di hutan atau alam bebas. Perlu kematangan dan keterampilan lain untuk melakukannya. Beberapa dasar pengetahuan bertahan di alam bebas, sedikitnya perlu diketahui.</p>
<p>Berikut beberapa tips jika kita tersesat di hutan yang saya kumpulkan dari sedikit pengetahuan saya, dan lebih banyak lagi dari teman-teman penggowes.</p>
<p><strong>Jaga-jaga sebelum tersesat:</strong></p>
<p>1. Jika XC atau off road ke hutan paling asyik jika menggowes bersama teman-teman pasti lebih seru. Hindari menggowes sendiri ke hutan. Tetapi jika berangkat seorang diri, sebaiknya memberitahukan ke keluarga atau teman mengenai rencana perjalanan Anda, termasuk waktu yang dibutuhkan dan perkiraan tiba.  Jika ada keanehan, terlalu lambat tiba, mereka akan menjadari bukan?</p>
<p>2. Siapkan peta trek sepeda dan kompas. Syukur-syukur memiliki GPS lengkap dengan trek sepeda  yang akan ditempuh kita.</p>
<p>3. Sebaiknya Anda cari tahu sebanyak-banyaknya daerah atau trek yang akan Anda lalui. Tanya kepada mereka yang pernah mencobanya, baca internet dan tandai tempat, persimpangan dan tanda-tanda khusus lainnya.</p>
<p>4. Usahakan menggowes di trek yang tersedia. Hindari  menggowes ke luar jalur, terutama di lokasi yang sama sekali asing atau tidak Anda kenal. Jangan merasa jagoan, jika ragu lebih baik kembali.</p>
<p>5. Paling gampil memang meminta bantuan pemandu jalan. Teman-teman gowes di berbagai daerah pasti bersedia menemani. Beberapa toko sepeda  tertentu bahkan menyediakan tenaga pemandu jalan.</p>
<p>6. Jersey dan helm yang berwarna-warni cerah memudahkan kita terlihat di hutan.</p>
<p>7. Jangan menggowes mulai sore hari, apalagi malam di hutan atau lokasi terpencil.</p>
<p>8. Jangan lupa bawa tools, ban dalam, senter, P3K dan makanan cadangan yang cukup. Kue, biskuit yang mengandung gula atau coklat disarankan.</p>
<p>9. Bawa alat komunikasi, peluit, HT atau HP (syukur-syukur bawa batere cadangan, lindungi dari air)</p>
<p>10. Selalu mengingat keadaan sekitar. Tinggalkan jejak, tandai tempat-tempat tertentu jalan cabang, pohon tertentu (check point)</p>
<p>11.  Hormati kebiasaan penduduk sekitar, termasuk larangan memasuki kawasan tertentu pada hari tertentu. Mereka biasanya memilik kearifan lokal tersendiri mengenai daerahnya.</p>
<p><strong>Jika Terlanjur Tersesat:</strong></p>
<ol>
<li>Jangan      panik, tenangkan diri dan lakukan orientasi medan.</li>
<li>Jangan      melakukan aktivitas berlebihan, hemat tenaga.</li>
<li>Pergunakan      alat komunikasi untuk menghubungi teman-teman.</li>
<li>Jika medan tidak      memungkinkan dan merepotkan, tinggalkan sepeda Anda. Tandai lokasi agar      jika sudah memungkinkan bisa diambil kembali.</li>
<li>Jika      gelap menjelang, lebih baik berhenti atau beristirahat karena berjalan di      malam hari di daerah tak dikenal, berbahaya dan bisa berakibat fatal. Kelap-kelip      lampu di perkampungan di malam hari, bisa menjebak. Seolah-olah tempat itu      dekat, padahal jurang menanti jika kita memaksa menuju ke sana. Lebih baik      beristirahat di tempat yang aman: ceruk atau di antara pepohonan.</li>
<li>Peluit,      asap, cahaya senter bisa menarik perhatian.</li>
<li>Jika meninggalkan      lokasi selalu meninggalkan jejak seperlunya</li>
<li>Peta      dan kompas akan membantu Anda ke luar dari lokasi, apalagi jika Anda sudah      membekali diri dengan ilmu navigasi darat.</li>
</ol>
<p>Mungkin bagi Anda, semua itu terlihat berlebihan.Tetapi seperti pepatah lama, sedia payung sebelum hujan; Berjaga-jaga sebelum kejadian, tidak ada salahnya.<em> (#naskah lama tersimpan, dikirim ke sebuah majalah hobby, gak jelas nasibnya. Ya, saya pasang di sini aja ya&#8230; USH)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2011/09/06/tersesat-gowes-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lost in Cikole (1)</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/12/29/tersesat-1/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/12/29/tersesat-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 01:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[cikole]]></category>
		<category><![CDATA[Palawa]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[KAMIS (24/12) selepas maghrib, saya mendapat kontak dari Gusur, teman KGC (Kompas Gramedia Cyclist) yang mengabarkan seorang teman tersesat saat offroad bersepeda di trek Cikole, Lembang Saya kebetulan sedang ternak teri di Yogya, segera menepikan kendaraan dan mengontak, Gun, teman yang dilaporkan tersesat itu. Begitu terhubung, terdengar nada panik, was-was, nafas terengah-engah dan mungkin sieun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KAMIS (24/12) selepas maghrib, saya mendapat kontak dari Gusur, teman <a href="http://www.kgcyclist.com">KGC</a> (Kompas Gramedia Cyclist) yang mengabarkan seorang teman tersesat saat offroad bersepeda di trek Cikole, Lembang Saya kebetulan sedang ternak teri di Yogya, segera menepikan kendaraan dan mengontak, Gun, teman yang dilaporkan tersesat itu.<br />
Begitu terhubung, terdengar nada panik, was-was, nafas terengah-engah dan mungkin sieun darinya. &#8220;Saya enggak tahu di mana, bah. Di tengah hutan, gelap dan enggak tahu jalan pulang !!&#8221;.<br />
<span id="more-100"></span>Rupanya Gun, yang malam itu rencananya berkemah bersama keluarga menyempatkan diri gowes ke trek Cikole, menjelang sore. Trek Cikole sebenarnya cukup familiar bagi para pesepeda offroad. Dengan vegetasi pinus seperti hutan-hutan di seputaran utara Bandung, trek itu cukup menyenangkan untuk dicumbui.<br />
Saya mencoba menenangkan Gun, dan meminta menghidupkan GPS di BB-nya, tadinya biar kita tahu lokasi dia di mana dan dari maps bisa mengarahkan dia ke mana. Tetapi rupanya, dia seperti &#8220;monyet ngagugulung kalapa&#8221; alias enggak tahu make GPS di BB. Jika dihubungi nada bicaranya semakin panik, nafas terengah, dan siga rek ceurik&#8230; <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sebuah gejala yang wajar.<br />
Peta yang saya terima lewat BBM&#8211; saya teruskan juga ke Gusur&#8211; hanya mengirimkan peta dasar, yang menandakan dia berada di seputaran Sumedang. Rasanya agak tidak mungkin. Padahal jika dia kenal memakai GPS di BB, setidaknya akan ketahuan posisi kita berada di mana. Gusur yang lumayan gape membaca peta juga rupanya kesulitan mengetahui lokasi persis Gun di hutan.</p>
<p>Saya mencoba mengontak teman-teman Kompas Bandung, beberapa rupanya offline, mungkin sedang berlibur Natal. Alex dan Kang DMU, teman Kompas Bandung, yang berhasil dihubungi sedang mengarah ke Jakarta tetapi dia akan mencoba mencari bantuan,<br />
Semakin malam, sekitar pukul 20.00 saya kirim BBM Kang Bano&#8211; teman saya di klub pecinta alam Palawa Unpad&#8211;perihal adanya teman<br />
yang tersesat di Cikole. Rupanya, Bano meneruskan pesan saya itu ke Kang Onath. Dasar Palawa sejati, si senior yang jago motret itu  dari Bandung langsung mengontak saya di Prambanan, malam itu. Saya ceritakan kronologis kejadian. Ke Bano dan Kang Onath, saya sempat bilang, tahan dulu untuk bergerak. Siapa tahu, Gun bisa menemukan perkampungan&#8230;<br />
Saya pun tetap menjaga kontak dengan Gun. Bagaimana pun untuk menjaga baterei ponsel, kontak dengannya harus dibatasi. Saya sempat khawatir, ketika dia bilang melihat kerlip lampu di rumah penduduk. Khawatir dia menerobos dan memaksa &#8220;mengejar&#8221; perkampungan itu, yang menurutnya &#8220;dekat dan sudah terdengar suara adzan&#8221;.</p>
<div id="attachment_102" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-102" title="dari FB Gun" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/12/gun-150x150.jpg" alt="Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad</p></div>
<p>&#8220;Kumaha ya, di depan saya jurang, kiri kanan juga gawir,&#8221; katanya. Saya teringat, beberapa kejadian konyol dari orang tersesat di gunung atau hutan adalah mencoba mendekat kerlip lampu dengan menerobos medan yang tidak memungkinkan.. Mereka terjerumus ke jurang dan akibat fatal.</p>
<p>Bagaimana pun, kejadian tersesat seperti ini bisa menjadi &#8220;lain ceritanya dan bisa panjang&#8221; jika salah langkah.<br />
Saya sarankan&#8212; seperti juga saran Cak Kris, pentolan KGC&#8211; sepedanya ditinggal saja di hutan dan coba berjalan kaki jalan makadam, dengan asumsi jalan seperti itu mengarah ke perkampungan. Akhirnya, dia memutuskan kembali naik ke trek dan mencoba menemukan makadam.<br />
Alhamdulillah, sekitar pukul 21.00 lewat dia tiba di sebuah kampung berpenduduk. Namanya, Cikareumbi, Cikidang Lembang.. lumayan jauh dari Cikole.<br />
Saya segera mengontak Kang Onath, dan mengabarkan hal itu.  Waduh, ternyata Kang Onath memang Palawa sejati. Dia bersama Kang Opik sudah mengarah ke lokasi untuk meng- SAR Gun. Mendengar kabar terbaru, Kang Onath dan<br />
Kang Opik pun segera memutuskan untuk tetap menjemput Gun di Cikidang dan mengembalikannya ke keluarganya di Camping Ground Cikole, malam itu juga&#8230;<br />
Gun setelah dievakuasi Kang Onath dan Opik, sangat bersyukur. Dia bilang harus bagaimana kepada teman-teman itu. Saya sampaikan, cukup peluk mereka: &#8220;Mereka ada saudara-saudara sejati saya&#8230;<br />
Malam itu saya kembali mendapat kepastian satu hal yang tidak meragukan, &#8220;teman, para sahabat adalah segalanya, dan tak ternilai&#8230;&#8221;<br />
Atas nama pribadi, Gun dan KGC saya mengucapkan hatur nuhun pisan kepada Kang Onath, Kang Opik yang sudah mau direpotkan&#8230;.<br />
Viva Palawa Brotherhood !!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/12/29/tersesat-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalur Sepeda di Kota, Mana Ahlinya ?</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/06/12/jalursepeda/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/06/12/jalursepeda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 01:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[SEMAKIN banyak orang bersepeda. Berbagai macam alasan menyertainya. Berolahraga, alat transportasi, ikut trend atau sekedar gaya-gayaan. Goweser yang bersepeda ke kantor pun tambah membanyak. Frekwensinya dari yang sepekan sekali, dua, tiga dan tiap hari. Cuma ya itu, tadi bersepeda memasuki Jakarta harus siap dengan resiko. Bukan melulu udara yang penuh polusi, tetapi juga resiko disenggol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEMAKIN banyak orang bersepeda. Berbagai macam alasan menyertainya. Berolahraga, alat transportasi, ikut trend atau sekedar gaya-gayaan. Goweser yang bersepeda ke kantor pun tambah membanyak. Frekwensinya dari yang sepekan sekali, dua, tiga dan tiap hari. Cuma ya itu, tadi bersepeda memasuki Jakarta harus siap dengan resiko. Bukan melulu udara yang penuh polusi, tetapi juga resiko disenggol kopaja, metro mini atau motor yang selalu ngebut minta ampun.<br />
Banyak orang mendambakan, Jakarta memiliki jalur sepeda. Pemerintah di negara maju, banyak yang sudah menyediakan jalur aman buat sepeda. Lengkap dengan rute dan tanda-tanda. Bahkan, di Bogotta, Kolombia&#8212; yang jalur buswaynya gagal dicontek Jakarta dengan transjakarta&#8211; jalur sepeda mengular dari kampung-kampung mengepung kota.<br />
Seperti juga transjakarta, yang dibangun setengah hati, dan menuju jurang kegagalan sebagai sebuah sistem transportasi massal, Sang Ahli yang mengurus Jakarta rupanya belum tertarik membuat jalur sepeda seperti kota yang diconteknya.<br />
Bahwa, Sang Ahli sering ikut-ikut bersepeda saat ada acara sepeda riang ria (funbike) itu soal lain. Bisa karena tuntutan seremonial sebagai pejabat yang terpaksa harus hadir dalam acara-acara masyarakat. Atau, bisa juga lebih rajin misalnya, untuk kepentingan kampanye apapun. Apalagi jika Presiden sampai tandem berdua nyonya bersepeda, masak gubernur tidak ikut bukan?<br />
Pilihannya memang cuma dua:<br />
<img class="alignleft size-thumbnail wp-image-84" title="lajursepeda-palembang" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/06/lajursepeda2-150x150.jpg" alt="lajursepeda-palembang" width="150" height="150" />1. Tidak perlu menuntut pemkot/pemda minta jalur sepeda, banjiri saja kota<br />
dengan sepeda sampai akhirnya pengelola kota, menilai masyarakat memang perlu<br />
jalur sepeda<br />
2. Pemerintah lebih maju dan cerdik: sediakan jalur sepeda yang nyaman dan aman,<br />
dan masyarakat diarahkan untuk menggunakan sepeda.<br />
Tidak seperti Jakarta, pemerintah kota Palembang rupanya memilih cara ke dua. Baru-baru ini mereka membuat jalur sepeda. Sebuah langkah yang patut didukung bersama.<br />
Selamat untuk masyarakat Palembang&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/06/12/jalursepeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Survei Bebek Panggang</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/05/18/survei-funbike/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/05/18/survei-funbike/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 08:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[funbike]]></category>
		<category><![CDATA[KGC]]></category>
		<category><![CDATA[survey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[TERNYATA sepedaan pagi-pagi banget terbukti lebih cepat. Hari masih gelap, sekitar pukul 05.30 start gowes hanya sekitar 50 menit saja sudah tiba di pelataran kantor. Biasanya sejarak 27 kilometeran itu ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menitan. Cuma memang perjalanan Minggu (17/5) pagi tadi lewat jalan depan alias Ciputat-LebakBulus- Kebayoran Lama. Biasanya, sih lewat Bukit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TERNYATA sepedaan pagi-pagi banget terbukti lebih cepat. Hari masih gelap, sekitar pukul 05.30 start gowes hanya sekitar 50 menit saja sudah tiba di pelataran kantor. Biasanya sejarak 27 kilometeran itu ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menitan. Cuma memang perjalanan Minggu (17/5) pagi tadi lewat jalan depan alias Ciputat-LebakBulus- Kebayoran Lama. Biasanya, sih lewat Bukit Dago Tol-Jl Merpati-Jl Kompas- Pengairan-Bintaro Tanah Kusir. Pagi hari juga udara agak lebih bersih dan segar, dan lalu lintas masih lengang..</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-76" title="KGC Brotherhood" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/05/survey2-150x150.jpg" alt="KGC Brotherhood" width="150" height="150" />Sengaja berangkat pagi, ceritany mau ikutan survey buat funbike ulang tahun Kompas, Juni mendatang. Kali ini <a href="http://www.kgcyclist.com">KGC </a>kembali mendapat tugas menyelenggarakan funbike. Sudah terbukti kok, beberapa kali KGC bikin kegiatan serupa dan sukses-sukses saja. (Dan yang jelas, bisa menghemat banyak alias gak muahal&#8230; ha..ha). Seringkali kita malah mikir, kalau ada pihak di luar kantor ngajak kita untuk bikin funbike, bisa saja kita tangani ha..ha. Bukan untuk tujuan komerasial tentu. Tidak pantas ya rasanya kalau memanfaatkan komunitas untuk kepentingan komersial. Jadi ya untuk tujuan sosial dan memperlebar persaudaraan penyepeda saja. Sekalian memasyarakatkan sepeda dan menyepedahkan masyarakat&#8230; lha? (Slogan Orba Mode: ON)<span id="more-74"></span></p>
<p><img class="size-thumbnail wp-image-75 alignright" title="Kasta Seli KGC" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/05/survey1-150x150.jpg" alt="Kasta Seli KGC" width="150" height="150" />Peserta survei lumayan juga. Tidak sempat menghitung pasti, karena enggak ada kertas absen. Kayaknya, sekitar 22-25 orang deh. Lumayan banyak. Cuma enggak sempat ditanya juga, apakah kita ini ikhlas mau survei apa lebih tertarik ke kulineran sesudahnya, seperti ditawarkan Cak Kris.. <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Ketua Dewan Syuro itu pula yang membagi kita menjadi 2 tim. Tim Pertama : Kompas- BPK- Semanggi-Bunderan HI&#8211; (memutar) Jl MH Thamrin&#8211;naik Semanggi&#8211; Pintu Barat. Tim lainnya: sama cuma pulangnya lurus ke arah Patung Pemuda dan memutar di situ&#8230;</p>
<p>Se<img class="alignleft size-thumbnail wp-image-77" title="survey bebek panggang" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/05/survey3-150x150.jpg" alt="survey bebek panggang" width="150" height="150" />telah mensurvei rute dan kawasan finish selesai di Senayan, ya kita rame-rame menuju kawasan Patih Unus.Di situ ternyata sudah berjejer sejumlah motor besar. Sudah tahu kan teka-teki, bedanya penyepeda dan pemotor gede? Keyword jawabannya: besar dan kecil&#8230; He..he..</p>
<p>Di Pati Unus banyak pilihan menu. Kulineran. Menunya? Nasi hainan bebek panggang atau Mie Bebek Panggang&#8230;. hmmm&#8230; Kalau begini, bisa juga dibikin saja survei tiap minggu&#8230; ha..ha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/05/18/survei-funbike/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masker Angker</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/05/05/masker-angker/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/05/05/masker-angker/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 02:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[masker]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>
		<category><![CDATA[sepedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[BAHWA sepedaan bikin sehat dan bugar badan, mungkin iya. Tetapi,  bahwa udara di Jakarta sangat jahanam sudah pasti. Polusi kota paling semrawut itu selalu masuk jajaran juara kota terpolutif di dunia. Nah, satu cara untuk tetap sehat gowes di Jakarta ya andalan kita cuma masker. Sudah berbagai jenis masker saya coba. Masker yang sebenarnya buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-66" title="ragam masker" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/05/img_2979.jpg" alt="ragam masker" width="229" height="152" />BAHWA sepedaan bikin sehat dan bugar badan, mungkin iya. Tetapi,  bahwa udara di Jakarta sangat jahanam sudah pasti. Polusi kota paling semrawut itu selalu masuk jajaran juara kota terpolutif di dunia. Nah, satu cara untuk tetap sehat gowes di Jakarta ya andalan kita cuma masker. Sudah berbagai jenis masker saya coba. Masker yang sebenarnya buat motoran saja,  saya pernah coba edikitnya tiga jenis. Ada jenis yang cebanan alias Rp 10 rebuan. Bentuknya, kayak topeng ninja. Pas dipake ya ampun, bukannya sehat malah engap. Bukan cuma bau karet, tetapi bau lem aibon juga terasa banget. Jangan-jangan kalau dipake terus malah ketagihan<em> ngelem</em>. Ada juga masker motor yang lumayan, harganya kalo enggak salah sekitar Rp 50 rebuan. Katanya, sih ada filter karbonnya segala jadi bisa menyaring polusi udara. <span id="more-65"></span>Sebenarnya masker ini lumayan enak, nafas masih bisa lancar. Pernah juga dikasih Om Nug, kuncen Humas Kompas Gramedia masker yang serius. Bentuknya kayak moncong babi. Waktu meliput musibah tsunami di Banda Aceh, akhir 2004 lalu, masker ini teruji efektif, beragam bau tidak masuk. Boleh jadi, saringannya bagus juga menyaring polusi. Cuma kalo dipaker terasa berat, dan sepertinya kita gowes saat perang kimia.<br />
Nah, belakangan saya pake masker paling anyar. <img class="alignright size-full wp-image-67" title="totobobo" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/05/img_1162.jpg" alt="totobobo kucel" width="167" height="223" /><br />
Namanya masker <a href="http://www.totobobo.com">totobobo</a>. Saya beli di Sekretariat B2w Jl Wijaya Jaksel. Masker ini harusdiakui paling nyaman. Bentuknya unik, simple banget seperti transparan bening. Ibaratnya, selain kita masih nyaman bernafas senyum kita pun masih kelihatan ha..ha.. Harganya sekitar Rp 100 ribuan. Dengan masker ini,  saringan (filter)nya terlihat cepat kotor. Filter di masker totobobo itu semakin meyakinkan bahwa udara di Jakarta memang angker.</p>
<p>Tidak diragukan lagi polusi udara Jakarta memang edan. Menurut Om Inu Febiana, senior gowes saya di B2W, idealnya sepekan sekali diganti tuh filter totobobo. Saya malah sempat mikir, kalo melihat bentuk filter pasca dipake dipake 2 hari saja jalan ke Jakarta sepertinya, tiap 2 harian sudah layak ganti. Beruntung, filter penggantinya ada yang jual. Kalau filternya enggak dijual repot juga ya? Tadinya saya sempat mikir, mencari cara mengganti filter. Om Inu usul, menggunakan saringan teh buat di dapur. Saya malah mikir menggantinya pake saringan dari bahan lain yang biasa dipake&#8230;. &#8212;ttttttiiiitt&#8212;.. (sensor). Cuma ya itu tadi, kalau make yang terakhir pasti pas gowes mikirnya jadi macem-macem.. ha..ha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/05/05/masker-angker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepedaan di Rumah</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/04/05/minoura-vfs150-g-r-trainer/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/04/05/minoura-vfs150-g-r-trainer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 15:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[bike trainer]]></category>
		<category><![CDATA[minoura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[SEPEDAAN memang paling asyik ya di jalanan, mau off road atau on road. Asyik banget. Pake Si Kapas ato Si Koneng, rasanya asyik serasa melayang-layang. Setiap pekan, diusahakan selalu ada hari gowes ke kantor. Bisa hari Kamis atau Jumat. Kamis enak, karena Jumatnya bisa istirahat bentar, biar besok Sabtu genjot weekend lebih fit juga. Cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-thumbnail wp-image-55 alignleft" title="minouravfs150gr" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/04/minouravfs150grtrainerwithremote-150x150.jpg" alt="minouravfs150gr" width="150" height="150" /> SEPEDAAN memang paling asyik ya di jalanan, mau off road atau on road. Asyik banget. Pake Si Kapas ato Si Koneng, rasanya asyik serasa melayang-layang. Setiap pekan, diusahakan selalu ada hari gowes ke kantor. Bisa hari Kamis atau Jumat. Kamis enak, karena Jumatnya bisa istirahat bentar, biar besok Sabtu genjot weekend lebih fit juga.</p>
<p>Cuma ya itu tadi, biasanya weekday sebelum kerja seringkali sepedaan ama Ayu, pacar terkasihku. Cuma kesibukan seringkali malah jadi gak sempet sepedaan berduaan keluar masuk kampung seputaran Pamulang dan sekitarnya. &#8220;Abah si enak, tiap Sabtu-Minggu bisa sepedaan ama oom-oom lain,&#8221; protes itu seringkali saya terima.<span id="more-54"></span></p>
<p>Ya, udah biar gowes bisa dilakukan kapan saja, akhir kita sepakat meminang <a href="http://performancedownhill.com/minouravfs150-g-rtrainerwithremote.aspx">Minoura VFS150-G-R Trainer</a> .  Sabtu (4/4) menyempatkan diri ke RL di Serpong. Sempet juga nyari-nyari tipe lain di toko sepeda sebelahnya. Dapetnya malah celana padding buat anaknya Yoppy, yang sepedaan ke sekolah di SMA Labschool Kebayoran Baru. Nyari nya lumayan lama, sampai si Teteh ama Aa yang kudu dijemput sekitar pukul 13.30 protes terus. Mana saat itu ada kampanye parpol yang katanya islami tapi kalo kampanye sama saja dengan parpol lainnya&#8230;</p>
<p>Nyampe sore di rumah, langsung disetting dan selesai maghrib. Udah lumayan enak dicoba, eh ternyata ada part yang belum kepasang&#8230; ha..ha. Besok-besok dirapiin lagi deh, yang penting sekarang udah bisa dipake gowes.</p>
<p>Si Bunda Ayu, langsung sumringah deh. Nah, sekarang trainer sudah di rumah. Jadi enggak ada alasan lagi, gak bisa sepedaan pas hari kerja. Jadi ceritanya, pagi-pagi udah bisa mancal sepedaan tanpa keluar rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/04/05/minoura-vfs150-g-r-trainer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bike 2 Sakolaan</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/03/11/bike-2-sakolaan/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/03/11/bike-2-sakolaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 03:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sepedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[ADZAN subuh belum lagi usai, saat pintu kamar terbuka, Juma, 6 Maret 2009. &#8220;Bah, jadi gak sepedaan ke sekolah?&#8221; suara si Aa Ugi. Walah, semangat juga dia. Sebenarnya sudah lama dia minta izin sepedaan ke sekolahnya. Selama ini, ditolak secara halus. Bukan cuma jarak rumah-sekolah alias Permata Pamulang- Lazuardi Cinere yang sekitar 12 kilometaran, tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_29" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-29" title="ugi_b2s" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/03/ugi_b2s2-150x150.jpg" alt="ugi_b2s2" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">siap-berangkat</p></div>
<p>ADZAN subuh belum lagi usai, saat pintu kamar terbuka, Juma, 6 Maret 2009. &#8220;Bah, jadi gak sepedaan ke sekolah?&#8221; suara si Aa Ugi. Walah, semangat juga dia. Sebenarnya sudah lama dia minta izin sepedaan ke sekolahnya. Selama ini, ditolak secara halus. Bukan cuma jarak rumah-sekolah alias Permata Pamulang- Lazuardi Cinere yang sekitar 12 kilometaran, tetapi tahu sendiri gimana edannya angkot atau sepeda motor di jalanan. Alasan keamanan diutamakan alias  prioritas. Rada khawatir juga. Apalagi beberapa teman menyarankan, dengan kondisi maut lalu lintas itu, sepedaan buat si Ugi sih mending buat olah raga aja dulu alias gowes weekend-an. Masalahnya, dia sering enggak ikut sepedaan akhir pekan karena kita sepedaan biasanya hari Sabtu. Nah, sementara hari Sabtu dia masih lumayan sibuk kudu les bahasa segala. Padahal yang namanya sepedaan, dia tuh udah kayak makan-minum: wajib hukumnnya.<span id="more-27"></span></p>
<p>Alasan paling gampang sih, bilang aja, untuk gowes pertama kudu ditemenin Abah. Nah, saya yang sok sibuk akhirnya belum sempet-sempet juga membayar nemenin dia gowes ke sekolah. Bagusnya, sepedaan ke sekola dia jadi  tertunda-tunda. Amanlah. Tetapi rupanya Semangat 45, si Ugi gak kunjung padam&#8212; siapa dulu dong abahnya&#8230; he..he&#8211; sampai Kamis malem itu dia SMS saat saya lagi di kantor. &#8220;Bah, jadi ya sepedaan ke sekolah besok, bah!&#8221; katanya. Ya udah, &#8220;Oke gi, Insya Allah besok sepedaan&#8221;.</p>
<p>Begitulah, walaupun badan masih agak ngantuk, semangat sepedaan si Aa Biker gak boleh dipadamin. Apalagi, dia langsung mandi&#8211; biasanya bangun leletnya minta ampyun&#8212; dan langsung berjersey Fox kesayangannya. Rasanya, sholat subuh juga udah pake jersey deh.. ha..ha. Helm dan masker disiapkan pula. Tak lupa, bandana penahan keringat sudah diikat rapi di kepala. Rear lamp dan beam udah ditest dan dipasang rapi. Kelap-kelip di ranselnya. Coba, alasan apa lagi yang bisa dipakai untuk mencegahnya sepedaan ke sekolah.</p>
<p>Si Teteh mah masih bobok. Didahului upacara pelepasan oleh si Bunda, lengkap dengan potret-potret segala sekitar pukul 5.40an kita tancap gowes ke Cinere! Si Oom Zul, goweser sebelah rumah, malah ngasih semangat juga. Tetangga yang lain sepertinya masih kemulan, pagi masih agak gelap dan dingin emang nikmat banget buat males-malesan bangun ha..ha</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-30" title="ugi-b2s1" src="http://agushermawan.com/wp-content/uploads/2009/03/ugi-b2s1-150x150.jpg" alt="ugi-b2s1" width="150" height="150" />Walah, si Mugi&#8230; pagi-pagi sudah ngacir. Sengaja dia disuruh di depan, tapi badannya yang ramping rupanya membuat ringan menggowes dan selalu meluncur terlalu jauh di depan. Teriak-teriak terus deh, jadinya &#8220;Ati-ati&#8230; angkot! Ati-ati motor!! Liat-liat&#8230;!!&#8221; Tanjakan lereng, dia agak keteteran. Sepertinya dia,  <em>loss power</em> karena salah gigi. Kalo Abah sih jangan dibilang, kalau cuma tanjakan lereng mah&#8230; dilalap&#8230; setengah jalan langsung TTB ha..ha..</p>
<p>Nyampe di rumah nenek di Cinere sekitar pukul 6.50-an lah atau sekitar 40 menit dari berangkat.  Gowes santai dan full deg-degan mantengin si Aa di depan. Nenek rupanya sudah siap menyambut. Sarapan dengan ayam dan telor dadar, nasi pandanwangi yang harum sudah menunggu. &#8220;Ha.. pantesan Ugi semangat banget sepedaan, <em>full service sih</em>&#8221; canda saya. &#8230;</p>
<p>Pukul 07.15 , dengan badan seger usai mandi Ugi berangkat ke sekolah dari rumah nenek.</p>
<p>Saya langsung tancap lagi ke rumah&#8230; pelan-pelan, cape pisan euy.. halah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/03/11/bike-2-sakolaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

