<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>agushermawan &#187; Sental-Sentil</title>
	<atom:link href="http://agushermawan.com/category/kompasiana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agushermawan.com</link>
	<description>"Blog Belum Jadi"</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 10:02:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Soto SBY, Jamu Soeharto..</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 04:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jaman Baheula]]></category>
		<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[WAKTU jaman Orde Baru dulu, kayaknya kalo enggak salah, semasa saya SMP, ada merek jamu yang sangat terkenal. Jamu Soeharto, namanya. Jamu itu dipercaya orang kampung saya bisa menggemukan badan. Enggak tahu benar tidaknya, cuma beberapa tetangga saya, memang mengaku, setelah  minum itu jamu, badannya jadi menggemuk. Kelihatan sekali perubahan fisiknya. Pipi mereka jadi tembem-tembem. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.com/agusher/GambarBlog#5364475092918722386"><img class="pie-img alignleft" style="margin: 10px;" title="warungbebek" src="http://lh4.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/SnJxrL_Z31I/AAAAAAAAJFE/Qi-H0U8s3l0/s160-c/sby.jpg" alt="sby.jpg" width="160" height="160" /></a>WAKTU jaman Orde Baru dulu, kayaknya <em>kal</em>o enggak salah, semasa saya SMP, ada merek jamu yang sangat terkenal. Jamu Soeharto, namanya. Jamu itu dipercaya orang kampung saya bisa menggemukan badan. Enggak tahu benar tidaknya, cuma beberapa tetangga saya, memang mengaku, setelah  minum itu jamu, badannya jadi menggemuk. Kelihatan sekali perubahan fisiknya. Pipi mereka jadi tembem-tembem. <em>Chubby..! <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em>&#8221; Coba deh minum jamu Soeharto,&#8221; katanya. Pokoknya, setelah minum jamu yang mereknya mirip nama Presiden saat itu, rakyat pun bisa tampak makmur, seperti para pemimpinnya. Gemuk ,lama dianggap sebagai lambang kemakmuran..<span id="more-93"></span><br />
Katanya, setelah minum jamu Soeharto, nafsu makan jadi bertambah. Mungkin ada atau tidak ada lauk, nasi plus garam pun enak saja dimakan.  Pokoknya bawaannya, lapar melulu. Selain itu, menurut para peminum jamu, mereka juga menjadi <em>ngantukan. </em>&#8220;<em>Tunduh </em>terus,&#8221; Maklum, di kampung kan mau <em>siesta </em>atau tidur siang jam berapa pun tinggal <em>merem</em>. Selain karena umumnya mereka bukan orang kantoran, mereka biasanya cuma pekerja lepas atau  petani penggarap. Bahkan, kebanyakan pengangguran, putus sekolah.<br />
Belakangan saya agak mengerti, kenapa orang yang makan jamu Soeharto itu, menjadi gemuk. Terang aja <em>cepet</em> gemuk,<em> lha</em> kerjanya cuma makan dan tidur!<br />
Pokoknya, walaupun belum ramai musim iklan atau <em>campaign manager, </em> kepopuleran jamu Soeharto semakin menjadi-jadi. &#8220;Ingin gemuk, makan jamu Soeharto!&#8221;<em> Tagline</em> itu bukan bikinan si pabrik jamu, tetapi  beredar dari mulut ke mulut. <em>Gethok tular..</em><br />
Begitulah, rupanya kepopuleran jamu Soeharto itu tak terbendung. Boleh jadi penguasa Orde Baru resah juga. <em>Lha, masak</em> nama Presiden disamakan dengan merek jamu. Seolah-olah pula, menjadi presiden itu urusannya cuma soal kegemukan alias kemakmuran. Kalau diteruskan pertanyaannya<em> kan</em> jadi repot. Kemakmuran itu hartanya didapat dari mana. Apakah presiden itu kerjanya pidato,  makan dan tidur, makanya gemuk. Enak betul jadi presiden&#8230;<br />
Mungkin setelah itu, seingat saya, merek jamu itu menghilang. Para pengguna jamu maupun calon pengguna jamu pun  yang ingin seperti Soeharto, eh,<em> pengen</em> gemuk pun bertanya-tanya. Mereka mencari-cari ke berbagai toko obat, warung jamu hingga ke Mbak Jamu Gendhong.. Jamu Soeharto lenyap, hilang dari pasaran! Entah diculik atau disukabumikan, pokoknya jamu Soeharto seperti ditelan bumi.<br />
Beberapa lama kemudian, muncul jamu dengan merek lain. Kalau tidak salah, namanya, Jamu Jawadwipa. Sama-sama, disebutkan jamu merek baru itu buat menggemukan badan. Bisik-bisik, kemudian beredar, nama Soeharto dilarang dipakai untuk  merek  jamu. Pemiliknya sudah ditegur oleh penguasa Orde Baru&#8211;yang organnya ada hingga ke tingkat RT&#8211;untuk mengganti merek jamunya. Maklum, kultus individu sudah terjadi terhadap penguasa Orde Baru itu.  Jadilah, merek Soeharto diganti menjadi jamu Jawadwipa. Waktu itu saya belum menjadi wartawan&#8211; masih pake celana pendek, masak jadi wartawan&#8230;? <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  &#8212; jadi tidak pernah mengecek dan mer<em>echeck</em> kebenaran cerita itu, yang sebagian saya dengar dari mencuri pembicaraan orang dewasa.<br />
<a href="http://picasaweb.google.com/agusher/GambarBlog#5364475614686748786"><img class="pie-img alignleft" style="margin: 10px;" title="sotosby" src="http://lh3.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/SnJyJjumIHI/AAAAAAAAJFM/zdBzUt0Jn9k/s160-c/sb2.jpg" alt="sb2.jpg" width="160" height="160" /></a>Ingatan masa kecil saya itu, terbuka kembali beberapa hari lalu. Pertama, saat saya melewati kawasan Pondok Pinang. Lainnya, saat mengantar mantan pacar saya ke Pasar Modern BSD. Di Pondok Pinang saya lihat ada warung soto ayam SBY. Di bilangan BSD,  bebek bakar nasi uduk SBY. Sayang, saya belum sempat mampir ke warung-warung itu. Jadi, saya belum sempat bertanya-tanya apakah merek SBY dimaksud itu singkatan dari Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyebut dirinya SBY. (&#8220;Ini bukan isu, bukan gosip, bukan rumor, ini data intelejen&#8230;) ? Atau, SBY itu singkatan dari nama kota, Surabaya yang memang lama dikenal dengan singkatan SBY, seperti halnya Bandung dengan BDG, atau Jakarta dengan JKT?</p>
<p>Saya cuma khawatir saja, enggak lama kemudian, kreativitas merek warung soto dan nasi uduk itu segera berakhir. Mungkin pikiran itu muncul karena trauma masa kecil saya, yang hidup di jaman Orde Baru. Bisa saja kan, di jaman yang (katanya) kini  Orde Sangat Baru kini, ada keberatan dari pihak atau mengaku pihak SBY. <em>Lha, kan</em>.. jangan sampai misalnya, muncul pikiran orang yang membaca nama SBY di warung itu mikirnya, macem-macem. &#8220;<em>Wah</em>, Pak SBY sekarang buka warung soto,&#8221;. Apalagi kalau dipolitisir, &#8220;Wah, setelah habis-habisan kampanye pilpres kemarin, modalnya habis jadi nyari tambahan bikin warung soto dan bebek bakar,&#8221; &#8220;<em>Wah,</em> buat <em>gantiin</em> dana yang <em>kepake </em>buat iklan mirip indomie, sekarang malah bikin warung soto mie..&#8221;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cipika Cipiki</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/04/21/cipika-cipiki/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/04/21/cipika-cipiki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 01:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>
		<category><![CDATA[cipika]]></category>
		<category><![CDATA[cipiki]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Entah dari mana asalnya,  sudah agak lama saya perhatikan aksi cipika-cipiki sudah seperti sudah menjadi kebiasaan orang kita. Sudah membudaya malah. Apalagi pejabat, wah setiap bertemu, : salaman terus dilanjutkan dengan cipika cipiki. Cium pipi kiri, cium pipi kanan. Menempelkan satu-satu bagian pipinya ke pejabat lainnya. Belakangan, malah tidak hanya melanda pejabat tetapi sepertinya sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah dari mana asalnya,  sudah agak lama saya perhatikan aksi cipika-cipiki sudah seperti sudah menjadi kebiasaan orang kita. Sudah membudaya malah. Apalagi pejabat, wah setiap bertemu, : salaman terus dilanjutkan dengan cipika cipiki. Cium pipi kiri, cium pipi kanan. Menempelkan satu-satu bagian pipinya ke pejabat lainnya. Belakangan, malah tidak hanya melanda pejabat tetapi sepertinya sudah memasyarakat.  Kalau perempuan atau wanita sih biasa melakukan itu. Saya maklum, dan senang memperhatikannya. Mungkin cipika cipiki itu ungkapan rasa rindu, rasa sayang, rasa kangen, rasa-rasa baik lainnya. Biasa juga dilakukan kalau ada spesial moment, seperti ulang tahun, berhasil mencapai sesuatu  atau baru mendapat penghargaan ini-itu. Biasanya dari mulutnya juga ramai terungkap rasa kangen atau rindu mereka. &#8220;Gimana jeng, apa kabar jeng?  Suami masih kerja di tempat lama? anak-anak bagaimana? Si Putri katanya udah tunangan ya? &#8221; dan seterusnya.<span id="more-61"></span></p>
<p>Seingat saya&#8211; ini juga kalau tidak salah&#8211;kebiasaan itu mulai ramai waktu jaman Pak BJ Habibie menjadi Menristek dan seterusnya menjadi Wakil Presiden. Nah, beliau kan memimpin satu organisasi yang namanya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia). Setiap ada acaraPak Profesor, saya lihat di televisi, terlihat di televisi acara cipika-cipiki itu berlangsung. Kebiasaan itu mengental sejak jaman Orba hingga Orbaba (Orde Baru Banget) kini. Saya sungguh tidak tahu, apakah cipika-cipiki itu kebiasaan muslim atau orang Arab. Katanya, orang Arab juga kalaupun melakukan itu hanya satu pipi sajalah. Entahlah, saya sedang terus berusaha mencari referensi soal cipika cipiki itu. Syukur-syukur ada yang segera memberi  tahu, cerita jadi saya perburuan saya soal referensi cipika-cipiki itu segera berhenti&#8230;</p>
<p>Cuma saya terus terang agak geli juga kalau melihat bapak-bapak melakukan cipika cipiki itu. Wah, paling deg-degan deh pas saya datang ke satu acara terus ternyata di situ ada &#8220;kebiasaan&#8221; cipika cipiki bapak-bapak. Waduh, kalau dengan tante-tante atau wanita idaman sih saya enggak pernah nolak untuk melakukan itu. Bahkan, seringkali malah mencuri-curi kesempatan. Lumayan kan?</p>
<p>Nah, kalau ada bapak-bapak, teman apalagi orang enggak kenal, ketemuan, salaman terus menyosorkan pipinya untuk dicipika cipiki &#8230;. hii&#8230;h memerlukan perjuangan sendiri deh. Apalagi kalau orangnya brewokan, pasti geli banget. Hik!!   Biasanya saya berusaha menghindar dengan cara memeluk orang yang siap pasang pipi untuk dicipika-cipiki. Atau, cuma mengadukan kepala saya, agar kena rambutnya saja. Kebayang, bukan cuman bau rokok atau bau lain dari mulutnya, tetapi juga bapak-bapak atau pria pada umumnya itu pipinya suka berminyak. Rasanya begitu selesai melakukan adegan mengerikan itu, rasanya ingin segera lari ke kamar mandi atau wastafel untuk mencuci muka bersih-bersih, menggunakan sabun tangan yang ada di wastafel pun enggak apa. Yang penting, saya (merasa) bersih&#8230; sih !! Kalau perlu sekalian berwudlu untuk membersihkan diri dan jiwa saya setelah berciuman pipi sesama jenis. Haram kan?</p>
<p>Belakangan saya sering sinis. Bukan apa-apa, ketika melihat satu adegan di televisi atau panggung lainnya ada pejabat atau elit negeri atau orang penting lainnya melakukan itu saya menjadi sangat trauma  akan sesi cipika-cipiki itu. Bukan apa-apa, banyak di antara mereka itu sepertinya bukan orang-orang panutan saya&#8211; dan orang kebanyakan mungkin. Banyak di antara mereka itu tersangka korupsi atau koruptor beneran, penjahat, pelanggar HAM, dan pelaku-pelaku ketidakadilan lain. Jadi ketika ada satu acaran di mana saya diundang, terus ada ritual cipika-cipiki itu rasanya sangat ingin segera kabur ke kamar mandi untuk segera cuci muka&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/04/21/cipika-cipiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curhat SMS</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/03/31/curhat-sms/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/03/31/curhat-sms/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 02:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>
		<category><![CDATA[SMS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[PESAN pendek alias   short message service (SMS)  sudah tak terpisahkan dari kita. Dia sudah seperti mulut kita. Siap setiap saat menyampaikan pesan atau kata-kata apa saja. Coba ya saya inventarisasi, mulai dari bertanya, menanyakan kabar, mengkonfirmasi, meneruskan pesan, merayu, memuji, menagih utang atau janji mengirim pantun, humor, potongan puisi,ucapan selamat hingga mengajak selingkuh. Kata-katanya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.com/agusher/GambarBlog/photo#5319168907453028386"><img class="pie-img alignleft" style="margin: 10px;" src="http://lh4.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/SdF78G0KWCI/AAAAAAAAEws/n9Db8XGhRV8/s160-c/IMG_0153.JPG" alt="IMG_0153.JPG" width="163" height="163" /></a>PESAN pendek alias   <em>short message service</em> (SMS)  sudah tak terpisahkan dari kita. Dia sudah seperti mulut kita. Siap setiap saat menyampaikan pesan atau kata-kata apa saja. Coba ya saya inventarisasi, mulai dari bertanya, menanyakan kabar, mengkonfirmasi, meneruskan pesan, merayu, memuji, menagih utang atau janji mengirim pantun, humor, potongan puisi,ucapan selamat hingga mengajak selingkuh. Kata-katanya bisa mendayu-dayu, sedih, gembira, atau ngeres. Semua bisa dikirim, bahkan suasana hati kita dengan simbol-simbol khusus mulai dari senang, tertawa <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  hingga sebel atau cemberut <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Bahasa SMS kini bolehlah kini dilist dalam bahasa-bahasa di dunia.</p>
<p>SMS itu sudah bisalah mewakili kita dalam berkata-kata. Makanya saya menilai, sifat atau karakter seseorang itu bisa tercermin dari SMS-SMS-nya. Atau, bagaimana cara dia menangani SMS yang masuk ke <em>handphone</em>nya atau cara dia menanggapi sebuah SMS. Hal seperti ini bisa dirunut juga dari cara orang itu memilih HP pegangannya: apakah orangnya ramah, humoris, judes, formal, sok pejabat, sok penting, snob, hemat, boros atau<em> ngirit </em>banget yang sudah dibedakan dengan pelit.<em><br />
</em></p>
<p>Saya misalnya, selalu mencoba segera membalas SMS-SMS yang masuk ke telepon genggam saya. Diusahakan pula menggunakan kata-kata pribadi, bukan dengan kata-kata instan yang biasanya sudah tersedia di HP kita, seperti &#8220;ok,<em> I&#8217;ll be waiting for.</em>&#8230; dst&#8221;</p>
<p>Namun seperti juga orang lain sering mengalami, tidak jarang SMS-SMS yang kita kirim itu tidak dibalas atau tidak berbalas. Berdasarkan pengalaman ada beberapa penyebab mengapa seseorang yang kita kirimi SMS (<em>receiver</em>) tidak menjawab SMS kita.</p>
<p>- <strong>Tidak sempat membalas:</strong> Ini bisa disebabkan orang itu sibuk banget atau situasinya memang tidak memungkinkan membalas SMS kita. Misalnya dia sedang menyetir atau lagi <em>numpak</em> kendaraan bermotor. Sangat beresiko celaka, jika orang sedang menyetir atau naik montor jawab SMS bukan? Mungkin juga dia sedang berada dalam situasi penting: rapat dengan boss misalnya, kan enggak mungkin si boss <em>ngecap</em> ke sana ke mari, sementara kita sibuk mememencet tuts HP buat membalas SMS. Tetapi ada juga<em> lo</em> bos yang bikin bete, saat kita ngomong dalam sebuah<em> meeting </em> dia malah sibuk mempermainkan HP-nya. Tadinya saya kira dia mencatat apa yang diomongkan anak buah dengan<em> smartphone</em> canggihnya&#8211; Blackberry Storm, I-Phone, Communicator E90 atau apa saja&#8211; <em>eh</em> ternyata dia menerima-kirim SMS. Entahlah buat, siapa. Tetapi saya curiga untuk selingkuhannya. Dalam banyak hal, selingkuhan ini lebih penting dibanding semua hal terpenting di dunia ini bukan..? <span id="more-46"></span></p>
<p>Bisa juga orang yang dikirim (receiver) itu berniat membalas SMS Anda saat membacanya. Tetapi karena tidak sempat dan menundanya, dia kelupaan untuk membalas pada saat yang memungkinkan.</p>
<p><strong>-Operator atau provider memble:</strong> Mohon maklum, kita tinggal di Indonesia,di mana pelayanan pelanggan atau konsumen masih mimpi. Biarpun sudah bayar mahal kita cuma bisa kesal atau menggerutu jika mendapat pelayanan buruk. Istilah, pelanggan adalah raja, buat banyak penyedia jasa di kita adalah cuma ada di iklan.  Seringkali SMS kita <em>nyampe</em> di receiver tertunda, bisa berjam-jam atau keesokan harinya. Bahkan, gagal kirim. Kalau sudah begitu ya, wassalam..Jadi cerita banyak orang jika janji batal gara-gara SMS mereka tidak terkirim  atau gagal kirim. Gosip lama juga jika ada orang bertengkar atau bercerai gara-gara SMS salah kirim, atau SMS nyasar.</p>
<p><strong>SMS kita tidak (dianggap) penting</strong>: Janganlah terlalu yakin SMS kita selalu dibalas oleh orang yang dikirimi SMS itu. Bisa jadi SMS kita itu enggak penting, garing atau basi. Jadi orang dimaksud, tidak merasa penting juga membalasnya. Bisa karena hemat pulsa atau orang-orang seperti itu hidupnya terlalu formal, kering, dan cukup tidak bahagia untuk membalas SMS-SMS ringan Anda. Sebaiknya, Anda tidaklah usah mengirimi  SMS semacam itu kepada orang begitu. Percuma.  Tetapi jangan salah, bisa juga bukan isi SMS-nya yang tidak dianggap dianggap penting. Bisa pula justru Anda sendiri yang dianggap tidak penting (!). Ha..ha jangan berkecil hati, biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sok pejabat, sok penting atau jaim alias jaga<em> image</em>. Bayangkan, Anda sudah semangat mengirim SMS yang menurut Anda penting, <em>eh, si receiver</em> hanya membuka dan membacanya sekilas setelah melihat sender-nya Anda. Artinya, Anda cuma dilihat sebelah mata saja dan bukan siapa-siapa bagi dia. Kasian deh lo&#8230; Tetapi saya sarankan Andalah yang justru harus mengasihani si<em> receiver</em> macam tadi. Pada saatnya orang-orang seperti itu tidak akan memiliki teman. Bagi saya, teman adalah segalanya dan merekalah tempat kita kembali, berkumpul dan mendapatkan kebahagiaan.</p>
<p><strong>-Pulsa habis atau Ngirit Pulsa: </strong>Wah, kalau ini asli &#8220;kecelakaan&#8221;. Mengirim SMS ke teman yang pulsa-nya habis, ibarat peribahasa masuk ke luar telinga kiri ke luar telinga kanan. Omongan kita sepertinya<em> enggak dianggep</em>. SMS macam apa pun, termasuk pemberitahuan mendapatkan hadiah rumah di Pondok Indah atau mobil Mercedes Benz seri terbaru tidak akan terbalas. Sialnya, karena habis pulsa kita tidak akan tahu apa yang terjadi karena menunggu sampai keluar uban pun, SMS kita tidak akan terbalas. Biasanya, kita baru <em>ngeh</em> jika bertemu muka dengan Si Pulsa Habis pada saat kemudian. Orang itu biasanya cengar-cengir tanpa dosa, dan meminta sorry jika dia tidak membalas SMS kita karena pulsanya habis. Anehnya, kenapa dia tidak menjawab kemudian SMS kita begitu pulsanya terisi kembali. Dasar..! Mungkin dari cara dia menggunakan pra bayar atau pulsa isi ulang saja, kita sudah bisa menebak teman kita itu bagaimana karakternya bukan. Boleh jadi hemat dan penuh perhitungan.</p>
<p>-<strong>Ganti nomor</strong>: He..he tidak usahlah dibahass. Kalau nomornya sudah ganti ya mengirim SMS sebanyak apa pun tidak akan diterima pesannya bukan? Cuma, <em>mbok ya</em> sebelum buang nomor lama dan akan menggunakan nomor baru, beritahulah dunia bahwa nomor HP Anda sudah berubah..</p>
<p><strong>-Sombong, sok, tidak peduli orang lain</strong>: Kita juga bisa menebak-nebak seseorang itu sombong atau tidak peduli orang lain. Jangan harap Anda akan mendapat balasan SMS atau perhatian dari orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti ini hanya mengirim SMS jika dia memang membutuhkan orang lain. SMS kita sepenting apa pun&#8211; apalagi cuma basa-basi&#8211; tidak akan dipedulikan, diabaikan, dilecehkan, diinjek, wah.. he..he Saya biasanya langsung mendelete nama dia dari <em>contact list handphone</em> orang-orang seperti ini. Bukan karena datanya akan memenuhi memori HP murah saya, tetapi saya pikir dia pasti akan meng-SMS saya jika memang membutuhkan.</p>
<p>Saya menganggap SMS  adalah teknologi yang ramah. Dia membantu saya, menyapa, <em>say hello </em>atau memperpanjang silaturahmi dengan teman-teman saya di mana pun. Cobalah SMS saya, kapanpun pasti saya <em>reply.</em> Ups! Apa saya ketagihan SMS ya?  he..he</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/03/31/curhat-sms/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Lebih Galak dari Macan?</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/03/16/manusia-lebih-galak-dari-macan/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/03/16/manusia-lebih-galak-dari-macan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 11:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kdrt]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Enggak ada macan makan anaknya. Atau, segalak-galaknya macan, enggak akan makan anaknya. Peribahasa itu dibuat biasanya untuk menunjukan, sejahat-jahatnya ortu enggak akan deh menganiaya anaknya.Kalaupun memarahi, katanya, ya itu cuma ungkapan kasih sayang saja. Makanya, saya enggak ngerti banget kalau ada ortu menyiksa anaknya dari menjewer, menampar, memukul, bahkan memecutnya dengan kopel atau ikat pinggang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enggak ada macan makan anaknya. Atau, segalak-galaknya macan, enggak akan makan anaknya. Peribahasa itu dibuat biasanya untuk menunjukan, sejahat-jahatnya ortu enggak akan deh menganiaya anaknya.Kalaupun memarahi, katanya, ya itu cuma ungkapan kasih sayang saja.<br />
Makanya, saya enggak ngerti banget kalau ada ortu menyiksa anaknya dari menjewer, menampar, memukul, bahkan memecutnya dengan kopel atau ikat pinggang.<span id="more-42"></span><br />
Coba ini baca berita di <em>Kompas</em> Minggu (15/3) kemarin.<br />
Sayang dibikin di kolom Kilasan Peristiwa&#8211; biasanya diisi cerita lucu atau ringan&#8211; mungkin berita anak menyiksa anak itu dianggap lucu ya? Padahal menurut saya, kejadian itu sama sekali enggak lucu. Mungkin mereka yang menempel di rubrik itu biasa menonton film komedi murahan dengan humor-humor slapstick, yang biasanya menganggap kecelakaan atau kemalangan yang diderita orang lain itu pantas ditertawakan. Atau, penggemar komedi hitam yang menganggap membunuh dengan silet terus disiram air asem atau cuka adalah lucu sekali&#8230;<br />
Tindakan ortu menganiaya anaknya adalah tindakan  biadab.<br />
Orang tua gaya preman yang bertindak kriminal semestinya dihukum setimpal.</p>
<p><a title="http://agushermawan.kompasiana.com/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=245" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=72161843216&amp;h=3114485dcb7aa509007e49f4cf18b5b3&amp;url=http%3A%2F%2Fagushermawan.kompasiana.com%2Fwp-admin%2Fpost.php%3Faction%3Dedit%26post%3D245" target="_blank">Kena Tendangan &#8220;Maut&#8221; Ayah Sendiri</a></p>
<p>Sudah seminggu ini Joko Budi Utomo (4) terbaring di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, dengan kaki berbalut gips. Ia terus mengerang kesakitan menahan nyeri akibat patah tulang kaki kanannya.</p>
<p>Menurut Sumiyati (38), ibu kandung Joko, kaki Joko patah tulang lantaran ulah Priyanto (32), ayah kandungnya sendiri. Pada Kamis (8/1), warga yang tinggal di Dukuh Sawahan, Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora, itu meminta Joko membeli susu untuk Ika (1), adik tirinya.</p>
<p>Dasar anak balita, Joko lebih tertarik membeli permen ketimbang susu sebagaimana pesanan ayahnya. Melihat Joko pulang membawa permen dan bukan susu, sontak Priyanto berang dan menendang kaki kanan Joko, pas di bagian selangkangan.</p>
<p>Joko tersungkur dan menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kaki Joko tak lagi normal, Priyanto segera melarikannya ke Rumah Sakit Daerah Kabupaten Blora. Setelah pemeriksaan, dokter rumah sakit itu merujuk Joko dibawa ke Rumah Sakit Telogorejo.</p>
<p>Kepala Kepolisian Resor Blora Ajun Komisaris Besar Umar Faroq melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Priharyadi mengatakan, Joko ikut Priyanto sejak sang ayah pisah ranjang dengan Sumiyati. Joko tinggal bersama Kartini (39), istri tak resmi Priyanto, dan Ika, anak kandung Priyanto dan Kartini.</p>
<p>Menurut pengakuan, Priyanto baru pertama kali ini menganiaya Joko karena tidak mampu membendung emosi. Apa pun alasan pelaku, tindakan itu tergolong kekerasan dalam rumah tangga dan pantas mendapatkan sanksi hukum.”Priyanto terancam hukuman pidana penjara lima tahun dan denda Rp 100 juta,” kata Kepala Polres Blora Priharyadi.(HEN)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/03/16/manusia-lebih-galak-dari-macan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Yudhoyono di Mana-mana</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/03/04/ikan-sby/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/03/04/ikan-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 00:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[kampanye]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhoyono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[SERIBU SATU cara terlalulah sedikit untuk meluncurkan berbagai macam jenis kampanye. Saya sendiri merasa amat terkepung. Ke mana mata mengarah, searah putaran jam selalu dihadapkan pada poster-poster, spanduk dan baliho. &#8220;Keluhan&#8221; ini bukan hal baru, banyak warga masyarakat yang diam-diam mengalami stress dan terkena calegcapresphobia. Telinga juga hampir mampat dijejali, nyanyian dan slogan kampanye. Televisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SERIBU SATU cara terlalulah sedikit untuk meluncurkan berbagai macam jenis kampanye. Saya sendiri merasa amat terkepung. Ke mana mata mengarah, searah putaran jam selalu dihadapkan pada poster-poster, spanduk dan baliho. &#8220;Keluhan&#8221; ini bukan hal baru, banyak warga masyarakat yang diam-diam mengalami stress dan terkena calegcapresphobia. Telinga juga hampir mampat dijejali, nyanyian dan slogan kampanye.<br />
Televisi kurang apa lagi. Bukan cuma melulu berita artis cerai-berai atau selingkuh rebutan &#8220;anu&#8221; &#8212; anu di sini maksudnya bisa apa saja, dari harta gono gini sampai harta gini-gini aja..&#8211; tetapi juga iklan-iklan kampanye.<span id="more-16"></span></p>
<p>Banyak orang bernasib sama seperti saya. Tetapi saya tidak tahu, berapa orang yang masih normal dan belum gila seperti saya. (Katanya, orang yang mengaku tidak gila itu disangsikan ya kenormalannya?) Saya bersyukur masih bersabar hati. Pernah dalam sehari, saya mendapat sekian banyak SMS dari tim kampanye SBY&#8211;  nomornya bisa lain-lain, termasuk dari Bravo Media  Center&#8211; yang sepertinya berisi beritakehebohan. Berikut saya kutipkan salah satu di antaranya, &#8220;Ada info nih, sore nanti jam 6 di Bravo Media Center milik SBY dan Demokrat, kawan2 wartawan dikumpulin untuk menonton bareng wawancara ekslusif SBY di Metro TV. isinya tetang hubungan SBY dengan Mega, JK, dan capres lainnya. Ada pula komentar tentang wapresnya SBY. Habis itu ada tanggapan dan komentar dari pengurus DPP Demokrat dan pengamat politik tentang isi wawancara itu. Ini kemajuan namanya&#8221;</p>
<p>SMS (25/2/2009; 13:14:47) lainnya begini, &#8220;Saksikan malam ini di Metro teve pukul 19.0 dan Indosiar pukul 20.00. Akhirnya SBY Bicara!! Andaikan diam itu emas, maka bila tiba waktunya berbicara maka bicara adalah berlian. Menjadi pemimpin adalah amanah. setiap kata yang terucap adalah tanggungjawab, Kini saatnya ia buka suara, mengalirkan pemikiran, berbagi persoalan. menjawab berbagai tudingan, kritikan dan kecaman yang dialmtkan kpdnya. Mari simak pendapat SBY melihat pertarungan politik di 2009. Sebarkan !! Bravo Media center&#8221; Saya sih, senyum saja. Gapapa kan namanya juga musim kampanye. Kecap selalu Nomor 1, bukan?</p>
<p>Sebagai wartawan biasa&#8211; yang seringkali ketinggalan berita, he..he..&#8211; saya senang saja mendapat kabar atau informasi sekecil apa pun. Sangat berterima kasih tentu saja. Cuma entah ya, saya kok rasanya, kesel banget menerima SMS-SMS propaganda seperti itu. Terlalu sering, berlebihan dan melanggar privasi saya.<br />
Saya sendiri sudah membalas dengan baik. &#8220;Terima kasih infonya. Nanti saya pantau,&#8221; Tetapi, ya Tuhan, SMS-SMS itu terus berulang-ulang. Saya kirim SMS lagi, &#8220;Tolong jangan terlalu sering ya SMSnya karena saya terganggu&#8221; Eh, si pengirim SMS merespon pula dengan baik. &#8220;Maaf mas,&#8221; katanya. Ya, tapi teuteup aja SMS<br />
serupa dikirim lagi, dikirim lagi.</p>
<p>Acaranya sendiri seperti sudah kita lihat, ya wawancara SBY saya lihat di sela-sela kesibukan saya bekerja, malam itu.  Yudhoyono menjawab berbagai hal, dari soal Megawati sampai Wapresnya yang kini&#8212;katanya&#8211; menjadi pesaingnya  sebagai capres. Saya tidak tahu apakah itu pertanyaan dan jawaban-jawaban spontan, atau memang sudah diskenariokan. Silakanlah, Anda meneba-nebak sendiri.<br />
Saya sendiri bersuudzon, tepatnya mungkin kritis <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8211; dengan berondongan SMS sepanjang siang hingga sore&#8211; itu wawancara di televisi itu tentu saja, &#8220;tidak murni&#8221;. Waktu siarnya pun disiapkan. Mungkin isitilahnya, <em>blocking time</em> ya. Soalnya setelah wawancara itu juga ditayangkan pidato-pidato, eh, keberhasilan Pak SBY. Selamatlah, sudah banyak keberhasilan. Kalau liat di teve dan iklan-iklan, sepertinya rakyat kita sudah gemah ripah loh jinawi lagi. Sudah swasembada beras lagi, BBM turun berkali-kali. Guru-guru juga sudah dinaikan gajinya dan anggaran pendidikan sudah meningkat. Harga-harga pun sudah melorot turun. Kalau soal faktanya, ya silakanlah dirasakan sendiri atau jalan ke kampung sebelah, liat dan tanya apa yang terjadi.</p>
<p>Upaya tim kampanye SBY ini luar biasa. Sebelumnya mereka juga dengan sukses &#8220;menyisipkan&#8221; koran Jurnal <a href="http://agushermawan.kompasiana.com/files/2009/03/kompas-sby1.jpg"><img class="size-medium wp-image-239 alignright" src="http://agushermawan.kompasiana.com/files/2009/03/kompas-sby1-300x156.jpg" alt="" width="300" height="156" /></a>Nasional sebanyak 8 halaman yang isinya wawancara  dengan SBY. Lengkap dengan &#8220;halo-halo&#8221; di halaman depan Kompas. Mungkin menarik membaca komentar salah seorang pembaca Kompas mengenai hal ini. Coba baca notes friend saya, <a href="http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/note.php?note_id=62530530002&amp;id=1607239734&amp;ref=share">Rita D Suradipa di Facebook.</a> &#8220;BTW, kalo ini iklan terbaru parte demokrat yang banyak duit ituh..gw cek-cek lagi, kok gak ada tulisan advertorial. Hmm, kenapa bisa nongol di tengah edisi Kompas ya, tepat sebelum halaman Klasika&#8230;, duh, jangan sampe deh Kompas berubah jadi Jurnas&#8230;wuaaaah.., tolonk..!&#8221;  kata Rita.<br />
Para kreatif periklanan&#8212; apalagi dengan sumber dana tak terbatas&#8211; memang luar biasa. Saya pernah melihat bagaimana sebuah iklan, bisa &#8220;mengapain&#8221; saja tampilan sebuah media. Contoh yang saya lihat kalau tidak salah, LA Times. Iklan-iklan di media tersebut bisa dibuat apa saja, termasuk melipat-lipat,<br />
menggunting, menjadikan amplop atau apa saja yang dimungkinkan dengan bangun grafis dan kertas.<br />
Soal kode etik, iklan yang &#8220;menipu&#8221; seolah-olah isi sebuah media&#8211; tanpa &#8220;batas api&#8221; atau tulisan iklan atau advetorial&#8211; tentu para empu redaksi bisa membuat diskusi panjang ibarat mana telor mana endog.<br />
Begitulah. rupanya, saya masih harus dikepung oleh kampanye Pak Yudhoyono itu. Karena saya sudah terjangkit ketagihan facebook, pagi-pagi sambil mengopi dan berubi cilembu bakar (hmm&#8230;) biasanya saya menjawab, teguran teman-teman di wall. Atau sekedar melihat gaya-gaya narsis dari facebooker, yang sepertinya selalu saja foto-foto berbahagia.. ha..ha, Eh lagi asyik-asyik saya dicolek oleh teman yang saat ini sedang berada di luar negeri sana untuk chatting. Ya, ampun.. isinya pun mengobarkan betapa Pak SBY itu sangat disenangi wartawan luar negeri. &#8220;Bisa menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan lancar,&#8221; katanya antara lain. Saya sudah berusaha membelokan obrolan, pagi-pagi masak <em>udah ngomongin</em> politik? Tetap saja dia berkampanye&#8230; Bener-bener, sigkong <em>diragiin</em>.. alis tapee <em>deh&#8230;</em></p>
<p>Belum cukup. Hari ini saya melihat &#8220;hal baru&#8221; lagi. Sahabat saya menanyakan, ada yang baru di Kompas hari ini, Selasa (3/2). Saya balik bertanya, karena Kompas di rumah saya enggak ada yang aneh. Paling juga artikel Deny Indrayana di halaman 6 (Opini) seperti dipersoalkan seorang wartawan pejuang, &#8220;Kompas semakin pro-SBY ya? Artikel Dennny Indrayana hri ini jelas-jelas pernyuataan sebagai penasehat Presiden, bukan dosen. Ironisnya, pembaca&#8230;. (disensor ya he..he)&#8221;</p>
<p>Sahabat saya itu menunjuk halaman depan Kompas hari Selasa (3/3).  Ups! Rupanya di  koran Kompas <a href="http://agushermawan.kompasiana.com/files/2009/03/sby2.jpg"><img class="size-medium wp-image-240 alignright" src="http://agushermawan.kompasiana.com/files/2009/03/sby2-300x123.jpg" alt="" width="300" height="123" /></a>sudah ditempeli stiker kampanye Partai Demokrat, lengkap dengan gambar Pak SBY sedang dadah-dadah.Saya sepertinya sudah tidak tahu harus mengumpet di mana.</p>
<p>Jangan-jangan nanti malam saya juga bermimpi bertemu dengan Pak SBY yang sedang melambai-lambai&#8230;tangan, dadah-dadah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/03/04/ikan-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

