<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>agushermawan &#187; Jaman Baheula</title>
	<atom:link href="http://agushermawan.com/category/baheula/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agushermawan.com</link>
	<description>"Blog Belum Jadi"</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Jan 2010 13:02:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Soto SBY, Jamu Soeharto..</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 04:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jaman Baheula]]></category>
		<category><![CDATA[Sental-Sentil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[WAKTU jaman Orde Baru dulu, kayaknya kalo enggak salah, semasa saya SMP, ada merek jamu yang sangat terkenal. Jamu Soeharto, namanya. Jamu itu dipercaya orang kampung saya bisa menggemukan badan. Enggak tahu benar tidaknya, cuma beberapa tetangga saya, memang mengaku, setelah  minum itu jamu, badannya jadi menggemuk. Kelihatan sekali perubahan fisiknya. Pipi mereka jadi tembem-tembem. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.com/agusher/GambarBlog#5364475092918722386"><img class="pie-img alignleft" style="margin: 10px;" title="warungbebek" src="http://lh4.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/SnJxrL_Z31I/AAAAAAAAJFE/Qi-H0U8s3l0/s160-c/sby.jpg" alt="sby.jpg" width="160" height="160" /></a>WAKTU jaman Orde Baru dulu, kayaknya <em>kal</em>o enggak salah, semasa saya SMP, ada merek jamu yang sangat terkenal. Jamu Soeharto, namanya. Jamu itu dipercaya orang kampung saya bisa menggemukan badan. Enggak tahu benar tidaknya, cuma beberapa tetangga saya, memang mengaku, setelah  minum itu jamu, badannya jadi menggemuk. Kelihatan sekali perubahan fisiknya. Pipi mereka jadi tembem-tembem. <em>Chubby..! <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em>&#8221; Coba deh minum jamu Soeharto,&#8221; katanya. Pokoknya, setelah minum jamu yang mereknya mirip nama Presiden saat itu, rakyat pun bisa tampak makmur, seperti para pemimpinnya. Gemuk ,lama dianggap sebagai lambang kemakmuran..<span id="more-93"></span><br />
Katanya, setelah minum jamu Soeharto, nafsu makan jadi bertambah. Mungkin ada atau tidak ada lauk, nasi plus garam pun enak saja dimakan.  Pokoknya bawaannya, lapar melulu. Selain itu, menurut para peminum jamu, mereka juga menjadi <em>ngantukan. </em>&#8220;<em>Tunduh </em>terus,&#8221; Maklum, di kampung kan mau <em>siesta </em>atau tidur siang jam berapa pun tinggal <em>merem</em>. Selain karena umumnya mereka bukan orang kantoran, mereka biasanya cuma pekerja lepas atau  petani penggarap. Bahkan, kebanyakan pengangguran, putus sekolah.<br />
Belakangan saya agak mengerti, kenapa orang yang makan jamu Soeharto itu, menjadi gemuk. Terang aja <em>cepet</em> gemuk,<em> lha</em> kerjanya cuma makan dan tidur!<br />
Pokoknya, walaupun belum ramai musim iklan atau <em>campaign manager, </em> kepopuleran jamu Soeharto semakin menjadi-jadi. &#8220;Ingin gemuk, makan jamu Soeharto!&#8221;<em> Tagline</em> itu bukan bikinan si pabrik jamu, tetapi  beredar dari mulut ke mulut. <em>Gethok tular..</em><br />
Begitulah, rupanya kepopuleran jamu Soeharto itu tak terbendung. Boleh jadi penguasa Orde Baru resah juga. <em>Lha, masak</em> nama Presiden disamakan dengan merek jamu. Seolah-olah pula, menjadi presiden itu urusannya cuma soal kegemukan alias kemakmuran. Kalau diteruskan pertanyaannya<em> kan</em> jadi repot. Kemakmuran itu hartanya didapat dari mana. Apakah presiden itu kerjanya pidato,  makan dan tidur, makanya gemuk. Enak betul jadi presiden&#8230;<br />
Mungkin setelah itu, seingat saya, merek jamu itu menghilang. Para pengguna jamu maupun calon pengguna jamu pun  yang ingin seperti Soeharto, eh,<em> pengen</em> gemuk pun bertanya-tanya. Mereka mencari-cari ke berbagai toko obat, warung jamu hingga ke Mbak Jamu Gendhong.. Jamu Soeharto lenyap, hilang dari pasaran! Entah diculik atau disukabumikan, pokoknya jamu Soeharto seperti ditelan bumi.<br />
Beberapa lama kemudian, muncul jamu dengan merek lain. Kalau tidak salah, namanya, Jamu Jawadwipa. Sama-sama, disebutkan jamu merek baru itu buat menggemukan badan. Bisik-bisik, kemudian beredar, nama Soeharto dilarang dipakai untuk  merek  jamu. Pemiliknya sudah ditegur oleh penguasa Orde Baru&#8211;yang organnya ada hingga ke tingkat RT&#8211;untuk mengganti merek jamunya. Maklum, kultus individu sudah terjadi terhadap penguasa Orde Baru itu.  Jadilah, merek Soeharto diganti menjadi jamu Jawadwipa. Waktu itu saya belum menjadi wartawan&#8211; masih pake celana pendek, masak jadi wartawan&#8230;? <img src='http://agushermawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  &#8212; jadi tidak pernah mengecek dan mer<em>echeck</em> kebenaran cerita itu, yang sebagian saya dengar dari mencuri pembicaraan orang dewasa.<br />
<a href="http://picasaweb.google.com/agusher/GambarBlog#5364475614686748786"><img class="pie-img alignleft" style="margin: 10px;" title="sotosby" src="http://lh3.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/SnJyJjumIHI/AAAAAAAAJFM/zdBzUt0Jn9k/s160-c/sb2.jpg" alt="sb2.jpg" width="160" height="160" /></a>Ingatan masa kecil saya itu, terbuka kembali beberapa hari lalu. Pertama, saat saya melewati kawasan Pondok Pinang. Lainnya, saat mengantar mantan pacar saya ke Pasar Modern BSD. Di Pondok Pinang saya lihat ada warung soto ayam SBY. Di bilangan BSD,  bebek bakar nasi uduk SBY. Sayang, saya belum sempat mampir ke warung-warung itu. Jadi, saya belum sempat bertanya-tanya apakah merek SBY dimaksud itu singkatan dari Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyebut dirinya SBY. (&#8220;Ini bukan isu, bukan gosip, bukan rumor, ini data intelejen&#8230;) ? Atau, SBY itu singkatan dari nama kota, Surabaya yang memang lama dikenal dengan singkatan SBY, seperti halnya Bandung dengan BDG, atau Jakarta dengan JKT?</p>
<p>Saya cuma khawatir saja, enggak lama kemudian, kreativitas merek warung soto dan nasi uduk itu segera berakhir. Mungkin pikiran itu muncul karena trauma masa kecil saya, yang hidup di jaman Orde Baru. Bisa saja kan, di jaman yang (katanya) kini  Orde Sangat Baru kini, ada keberatan dari pihak atau mengaku pihak SBY. <em>Lha, kan</em>.. jangan sampai misalnya, muncul pikiran orang yang membaca nama SBY di warung itu mikirnya, macem-macem. &#8220;<em>Wah</em>, Pak SBY sekarang buka warung soto,&#8221;. Apalagi kalau dipolitisir, &#8220;Wah, setelah habis-habisan kampanye pilpres kemarin, modalnya habis jadi nyari tambahan bikin warung soto dan bebek bakar,&#8221; &#8220;<em>Wah,</em> buat <em>gantiin</em> dana yang <em>kepake </em>buat iklan mirip indomie, sekarang malah bikin warung soto mie..&#8221;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/07/31/soto-sby-jamu-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Happy Biker !</title>
		<link>http://agushermawan.com/2009/02/25/happy-bikers/</link>
		<comments>http://agushermawan.com/2009/02/25/happy-bikers/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 05:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jaman Baheula]]></category>
		<category><![CDATA[Sasapedahan]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agushermawan.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[
WAKTU saya kecil, uwak saya adalah seorang penjual-beli sepeda. Abah Anda namanya. Seringkali dia mampir ke rumah saya karena memang kampungnya tidak seberapa jauh. Biasanya dia memang menggunakan sepeda. Seringkali sepedanya berganti-ganti. Sekedar mengopi siang atau mengobrol, mendongeng apa saja dengan kami, para keponakannya. Lain kali, dia akan meminta mencabuti ubannya. Tentu saja dengan upah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.com/agusher/IlalangBikes/photo#5309131869369923170"><img class="pie-img alignright" style="margin: 10px;" src="http://lh3.ggpht.com/_mUjwek-9ABA/Sa3TTmN_9mI/AAAAAAAAD0k/6KCDA4YtGFY/s160-c/IMG_0473.JPG" alt="IMG_0473.JPG" width="160" height="160" /></a></p>
<p><strong>WAKTU</strong> saya kecil, uwak saya adalah seorang penjual-beli sepeda. Abah Anda namanya. Seringkali dia mampir ke rumah saya karena memang kampungnya tidak seberapa jauh. Biasanya dia memang menggunakan sepeda. Seringkali sepedanya berganti-ganti. Sekedar mengopi siang atau mengobrol, mendongeng apa saja dengan kami, para keponakannya. Lain kali, dia akan meminta mencabuti ubannya. Tentu saja dengan upah. Saya tidak ingat persis, berapa rupiah jumlahnya. Tetapi setiap kali selesai kami mencabuti uban-ubannya, selalu dia bilang, tabung dulu ya nanti kalau sudah banyak baru dibayar. Tetapi kami lebih suka meminta &#8220;upah&#8221; dengan merayu dia agar membolehkan menggunakan sepeda-sepeda kesayangannya.<span id="more-3"></span></p>
<p>Waktu kecil dulu&#8211; mungkin saya masih kelas 1-2 SD&#8211; tidak tahu persis merek sepeda-sepeda yang sekarang dikenal sebagai sepeda onthel itu bermerek apa. Yang saya ingat betul, sepeda torpedo. Belakangan memang tahu, di antaranya ada yang bermerek Gazelle (?).  Bagi anak kecil cukup sulit mengendarainya. Sepeda itu tidak menggunakan rem. Jika kita ingin mengeremnya, kita harus membalik kayuhan pedalnya. Jika tidak ahli benar, bukan berhenti yang kita dapat. Tetapi malah terjungkal ! Sepeda jaman dulu, seingat saya dibagi dua jenis: sepeda awewe (perempuan) dan sepeda lalaki. Membedakannya cukup mudah. Sepeda lelaki biasanya di bagian framnye ada palang. Karena berpalang, cukup sulit bahkan tidak mungkin bagi perempuan jaman dulu&#8211; yang kebanyakan berkain atau menggunakan rok- untuk &#8220;memancalnya&#8221;.  Mereka harus menggunakan sepeda awewe itu, yang tidak berpalang.</p>
<p>Kami&#8211; anak-anak&#8211; tidak pernah memilih sepeda. Sepeda awewen atau lelaki, sama saja bisa kami naiki. Sepeda perempuan lebih mudah memang. Tetapi sepeda lelaki dengan kaki-kaki kecil yang tak mungkin menjangkau pedal jika kami duduk di sadel? Caranya, gampang cukup memasukan kaki ke bawah palang rangka, dan kami akan menggowes sepeda dengan miring. Ajaib. Jika nekat sedikit naik pagar dan kami memancal palang sepeda dengan resiko bagian &#8220;burung&#8221; tergesek-gesek pedal.. ha..ha. Alih-alhi bergantian dengan sepupu, setiap ada yang mencoba sepeda, anak lain sudah tak sabar untuk mendapat giliran. Atau bahkan, mereka akan berlari-lari di belakang siapa pun yang menaiki sepeda..</p>
<p>Abah Anda sepertinya sangat sayang kepada semua sepeda-sepedanya. Sepedanya selalu terlihat bersih dan mengkilap. Sepertinya semua part, rangka dan ban dia lap dengan bersih. Agar mengkilap tak jarang dia menggunakan minyak keletik, minyak yang dibuat dari kelapa tua. Belum ada pengkilap pabrik seperti sekarang. Tetapi untuk bahan-bahan pernekel dia sudah menggunakan brasso. Sedangkan ban-ban sepedanya mengkilap hitam diasah semir. Dia juga tahu persis bagian-bagian apa saja yang harus dijaga. Untuk menguji kekuatan sepeda, tepatnya rangkanya, dia hanya cukup menjentikan jarinya ke batang-batang sepeda. Apakah bunyinya &#8220;Ting!!&#8221; atau &#8220;Thek..!!&#8221;  ?? Dari situ dia akan tahu, apakah itu sepeda bagus atau bukan. Demikian juga dengan cat, apakah cat asli atau cat ulang. Di kampung saya, ketika sawah masih luas sepandang mata memandang, banyak sepeda yang digunakan untuk mengangkut berkarung-karung beras dari sawah ke kampung.<br />
Abah Anda dengan antusias akan menceritakan dan membanggakan keunggulan tiap-tiap sepedanya yang dibawa.<br />
Tetapi jangan harap, Bah Anda memberikan sepeda kesayangannya untuk itu. Memerlukan rayuan maut, untuk meminjam sepeda-sepedanya..</p>
<p>Kini setiap saya menggowes, selalu teringat dia. Saya senang, karena dengan sepeda-sepedanya itulah, saya bisa mengayuh dan mengedarai sepeda&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agushermawan.com/2009/02/25/happy-bikers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
