Mengayuh Kebersamaan — Gowes Jakarta-Palembang (1)

Berjalanlah sejauh kamu mampu,

di perjalanan, kamu akan mengetahui siapa kamu sesungguhnya

Saya beruntung bisa mengikuti sebuah perjalanan sepeda cukup jauh, sekitar 820 km. Tidak sendirian memang, tetapi menjadi salah seorang dari 52 orang penggowes peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang 3-9 November 2011.

Beberapa teman sudah menuangkan kesan-kesan perjalanannya, dalam Facebook atau blog mereka. Saya menuliskannya laporan sederhana yang dimuat di Kompas, Selasa, 15 Nov 2011   Halaman: 37

Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang 2011:

Mengayuh Kebersamaan

Tidak ada suara canda seperti tadi siang. Di malam gelap dengan jalanan ”rolling”, naik turun panjang, hanya terdengar suara kayuhan dan gesekan rantai ke ”sproket”. Lampu tidak terlalu terang menerangi jalanan yang banyak berlubang. Konsentrasi penuh, mengayuh, mata awas melihat putaran roda sepeda teman seperjalanan di depan.

Malam gelap gulita itu, kami, tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang (JSJP), harus menyelesaikan sekitar 30 kilometer etape ke-6 Kotabumi-Baturaja (167,5 km). Selepas isya, setelah diterima komunitas sepeda Martapura, kami harus menempuh perjalanan malam (night ride).

Tiba-tiba saja seorang marshal bermotor menghampiri Road Captain (RC, pemimpin perjalanan) Marta Mufreni, ”Ada yang jatuh!” Suasana terasa lebih mencekam. Kami semua menepi ke sisi kiri jalan. Kekhawatiran Aiptu Bader Balvas–dari Satuan Patwal Mabes Polri yang berada di depan rombongan pesepeda JSJP–bahwa perjalanan malam perlu kewaspadaan tinggi karena rawan kecelakaan terjadi juga.

Seorang peserta jatuh karena mengerem mendadak. Untung, Anton Sanjoyo dari Kompas Gramedia Cyclist tidak cedera akibat kecelakaan kecil tersebut. ”Saya benar-benar ngeri. Perjalanan ini sangat bahaya dan saya terus terang tegang. Kesalahan sedikit bisa mengakibatkan kecelakaan beruntun dan fatal,” ungkap Bader setelah perjalanan usai dengan selamat.

Etape Kotabumi-Baturaja memang merupakan etape terpanjang dari tujuh etape lain yang hanya berjarak sekitar 100 km setiap etape. Perjalanan etape ini menjadi spesial pula karena sekitar 30 km di antaranya harus dilalui dengan perjalanan malam menembus hutan dengan jalanan berlubang di sana-sini. Perjalanan Kotabumi-Martapura saja sudah menguras tenaga. Tanjakan-tanjakan panjang menjelang Bukit Kemuning serta jalanan yang umumnya berkontur rolling lumayan membuat dada terasa panas karena energi terkuras.

Di Martapura, RC Marta sebenarnya sudah memberi tawaran kepada 52 peserta JSJP, termasuk tiga perempuan penggowes. ”Jangan memaksakan diri. Jika memang merasa kelelahan dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke Baturaja, peserta boleh naik mobil evakuasi,” ujarnya. Apalagi, salah seorang peserta setiba di Martapura mengalami kram perut. Tiga orang lainnya juga tidak direkomendasikan dokter untuk meneruskan perjalanan. Namun, kenyataannya, semua peserta bersemangat untuk meneruskan perjalanan.

Semua peserta akhirnya tiba selamat di Baturaja, sekitar pukul 20.20.

Walaupun dari segi jarak tidak lebih panjang daripada dua jelajah sepeda Kompas sebelumnya, JSJP ini terasa istimewa. Dua jelajah sepeda sebelumnya, Anyer-Panarukan dan Surabaya-Jakarta, berjarak tempuh 1.000 km. Sementara JSJP yang berlangsung pada tanggal 3-9 November lalu tidak saja diikuti peserta paling banyak, mencapai 52 orang, tetapi juga merupakan perjalanan sepeda lintas Pulau Jawa-Sumatera.

Para peserta berasal dari beberapa komunitas sepeda dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Lampung, dan Palembang dengan beragam profesi, mulai dari karyawan swasta, guru, wartawan, wiraswasta, hingga dua orang dari Kopassus serta seorang dari kepolisian.

Nasionalisme

Selama tujuh hari, kami menapaki tujuh etape, Jakarta-Merak-Kotabumi-Baturaja-Muara Enim- Prabumulih dan berakhir di Palembang, dengan jarak keseluruhan 820 km. Perjalanan sepeda Kompas kali ini pun tidak melulu untuk lebih memasyarakatkan kesadaran masyarakat kembali menggunakan sarana transportasi sepeda, tetapi lebih untuk menyemarakkan SEA Games XXVI di Palembang dan memberikan semangat kepada para atlet yang berlaga dalam pesta olahraga Asia Tenggara tersebut.

Sepertinya upaya untuk ikut menyemarakkan SEA Games ini lumayan berhasil. Setidaknya hal itu terasa di sepanjang perjalanan, masyarakat menyambut kami dengan meriah. Teriakan-teriakan pemberi semangat saling kami teriakkan dengan masyarakat sepanjang jalan. ”Indonesia! Indonesia pasti bisa! Hidup Indonesia!”

Lucu juga rasanya, di antara teriakan-teriakan itu ada juga yang memberi semangat seolah-olah kami atlet sepeda beneran. ”Ayo, kamu pasti dapat emas. Indonesia juara!” Hasilnya lumayan, teriakan-teriakan seperti itu sering kali menjadi pemompa semangat kami saat tenaga terkuras karena tanjakan-tanjakan panjang. Rasa nasionalisme yang membuat bungah hati untuk semakin bersemangat menyelesaikan misi JSJP.

Sambutan ramah masyarakat juga terasa saat kami beristirahat sejenak untuk makan siang atau mengambil napas setelah didera tanjakan panjang. Di sebuah tempat selepas Bukit Kemuning malah ada warga yang membolehkan kami memetik rambutan dan mangga di halaman rumahnya. Sambutan dari komunitas sepeda di sejumlah kota, mulai dari Bandar Lampung, Kotabumi, Martapura, Muara Enim, Prabumulih, hingga Palembang, mempererat rasa persaudaraan. Tidak jarang mereka mendatangi kami di hotel pada malam hari untuk sekadar bersilaturahim dan memberi semangat.

Perjalanan menyusuri jalanan jalur tengah lintas Sumatera ternyata juga menanamkan rasa cinta kepada negeri. Melihat anak-anak sekolah bertelanjang kaki di sepanjang jalan berteriak-teriak memberi kami semangat menyisakan bukti bahwa negeri ini belum selesai dibangun. Kemerdekaan belum dirasakan semua warga masyarakat negeri ini.

Perjalanan panjang sudah selesai dilakukan. Kami tiba sehari sebelum pelaksanaan SEA Games XXVI di Palembang. (Agus Hermawan)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *