Gowes Jamblang ! — Gowes Jakarta Palembang (3)

“Gowes Jamblang! Maju terus, sampai tujuan!”

Yel-yel seperti itu menyemangati peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang. “Gowes Jamblang” adalah sebutan untuk “ Gowes Jakarta – Palembang” sepanjang 820 km yang terbagi dalam 7 etape dengan rata-rata jarak 100 km per etape.

JIKA dibandingkan dengan kegiatan lain, mungkin Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang merupakan hajatan Kompas Gramedia yang mendapat sambutan meriah berbagai lapisan masyarakat di berbagai kota. Rombongan peserta dan panitia saja mencapai 100 orang lebih, termasuk 52 orang penggowes, 3 di antaranya perempuan. Itu belum termasuk panitia lokal, dari kota-kota yang dilewati JSJP.

Para polisi dan patrol pengawal yang menjaga dan “membersihkan” jalan agar para peserta leluasa lewat. Iring-iringan pesepeda, mobil pengawal, motor marshal, mobil pendukung boleh jadi mencapai 1 km lebih. Tentu saja dengan akibat kemacetan sepanjang jalan. Panitia dan peserta meminta maaf atas hal itu. Untuk “memecah” kemacetan, biasanya rombongan berhenti di sebuah titik dan menunggu sampai arus kendaraan kembali mengalir, seperti di mesjid selepas tanjakan Bakahuni (Etape 2: Bakahuni _ Bandarlampung) atau di pom bensin Pesawaran (Etape 3: Bandarlampung- Kotabumi).

Sambutan meriah memang dirasakan sepanjang jalan di jarak 820 km yang ditempuh antara Jakarta – Merak-Bakahuni-Bandarlampung-Kotabumi-Martapura-Baturaja-Tanjungemin-Prabumulih-Palembang. Warga masyarakat, tua muda melambai-lambaikan sepanjang jalan. Anak-anak sekolah yang umumnya bertelanjang kaki, berhamburan ke luar kelas, meloncat-loncat kegirangan saat tim JSJP melewati jalan di depan sekolah mereka. “Saya pernah menjadi marshal di berbagai kegiatan tur sepeda, termasuk Tour d’ Jawa atau Tour d’ Singkarak. Namun saya bukan memuji, ini merupakan tur dengan manajemen dan organisasi yang sangat rapi,” kata Pak Yos, salah seorang peserta JSJP dari Komunitas Green Fly, Jakarta. Pengalaman menyelenggarakan jelajah sepeda sebelumnya, Anyer- Panarukan (2008) dan Surabaya Jakarta (2010) rupanya menjadi bekal untuk sukses JSJP kali ini.

Mas Nugroho F Yudho, General Manager Humas, Kompas-Gramedia (KG) mengatakan, mulai dari jelajah sepeda pertama Anyer Panarukan yang sama sekali “buta” dengan peserta yang umumnya atlet sepeda, sampai Surabaya- Jakarta dengan peserta mulai dioplos antara berbagai komunitas dari berbagai daerah. Tim Survei Jimmy Rambing—yang juga berhobi turing dengan motor—rupanya menyiapkan betul jalur-jalur etape yang akan dilalui peserta. Tempat penginapan, hotel, suplai makanan, minuman, marshal bermotor semua sudah berfungsi dengan baik dan optimal. “Kalau mau, bisa jelajah sepeda ini bisa dijadikan unit bisnis sendiri,” gurau Jimmy tertawa.

Gurauan Jimmy itu boleh jadi berangkat dari animo masyarakat penggemar sepeda yang begitu tinggi untuk mengikuti JSJP. Bahkan, banyak di antaranya yang bersedia membayar akomodasi dan hotel sendiri asalkan disertakan dalam penjelajahan kali ini. Jelajah Sepeda kali ini pun terasa istimewa karena lebih dari setengah jumlah peserta (24 dari 52 peserta) adalah para “atlet lokal” dari Kompas Gramedia Cyclist (KGC) dari berbagai divisi atau unit kerja di lingkungan KG. Komunitas peraih “The Inspirer Community” pada kegiatan Indonesia Consuminity 2010 versi majalah SWA itu memberI warna tersendiri terhadap kekompakan dan kerja sama tim jelajah secara keseluruhan.

“Saya belum pernah membawa rombongan pesepeda sebanyak ini. Namun saya agak tentram karena sebagian besar peserta adalah rekan-rekan dari KGC. Mereka memberi warna sendiri dan membuat seluruh tim semakin solid,” ujar Road Captain JSJP Marta Mufreni. Marta memang sudah seperti keluarga KGC, bukan karena setiap akhir pekan melatih KGCers, tetapi dia seringkali terlibat bareng dalam berbagai kegiatan KGC. Panitia pun sempat kebingungan karena begitu besar animo anggota KGC mengikuti kegiatan JSJP. Padahal, mereka harus mengambil jatah cuti, bukan atas nama dinas. Namun beberapa orang di antaranya “gugur sebelum berturing” karena tugas kantor tidak memungkinkan mereka cuti. Padahal KGC biasanya sok jago dengan jargon “Pekerjaan nomor satu, tapi sepedaan kudu diutamakan!” Ha.. ha

Sambutan masyarakat Seperti juga dalam jelajah sepeda sebelumnya, JSJP kali ini pun berlangsung berbagai kegiatan sosial yang bekerja sama dengan Dompet Kemanusiaan Kompas (DKK). Sejumlah acara sosial dilaksanakan di berbagai tempat yang dilalui peserta, seperti sunatan massal, pemberian bantuan buku perpustakaan. Bahkan, di Kotabumi Lampung Utara JSJP memberikan bantuan hewan Qurban berupa dua ekor sapi untuk warga jamaah seputar masjid tersebut. “Kami sangat berterima kasih atas bantuan hewan qurban itu,” kata Yen Dahren, warga Kotabumi Lampung Utara yang cawe-cawe menjadi panitia lokal JSJP. Padahal pekerjaan sehari-harinya adalah Kepala Bagian Pemerintahan Umum Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, sekitar 50 km dari Kotabumi.

Seperti juga Yen, banyak warga masyarakat lain yang memang ikut membantu lancarnya kegiatan JSJP kali ini. Niat baik dari Kompas Gramedia rupanya bagai gayung bersambut. Banyak warga masyarakat yang bersukarela mau meluangkan waktu menyambut dan membantu kami. Mengharukan juga, sambutan masyarakat di berbagai daerah begitu terasa bagi tim JSJP. Di berbagai kota tujuan, seperti Bandar Lampung, Kotabumi, Martapura hingga Muaraenim, hingga etape terakhir di Palembang sambutan masyarakat— terutama penggemar sepeda—sangatlah luar biasa. Bahkan tidak jarang di antara mereka datang ingin menemui kami pada malam hari.

Rekan-rekan penggowes dari Bandarlampung, seperti Komunintas Rakata atau penggemar onthel maupun remaja fiksi, eh remaja penggemar sepeda fiksi di Kotabumi ramai-ramai datang ke hotel. Bahkan, di Kotabumi , mereka membawa hiburan organ tunggal segala lengkap dengan berbagai games. (Padahal, Sabtu (8/11) malam itu, malam takbiran untuk Lebaran Haji alias Idul Adha…) Suka enggak enak hati juga, karena di tengah antusiasme mereka ingin mengobrol dan menghibur kami di penginapan, para penggowes ingin tidur cepat untuk pulihnya tenaga esok hari. Beruntung, sejumlah rekan mau bersedia menyambut kedatangan mereka.

Mudah-mudahan, para sahabat di berbagai daerah itu maklum ya… he..he Kayuhan para pesepeda peserta JSJP telah menapaki sejumlah kota. Sepanjang 820 km telah disusuri siang dan malam. Namun mereka semua menyimpan mimpi yang sama: ikut menjadi peserta Kompas Jelajah Sepeda Indonesia: Sabang Merauke 2015, yang diharapkan terlaksana bersamaan dengan ulang tahun ke-50 Kompas. (abah, Info Kita eds 11/November 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *