Garing.com — Gowes Jakarta-Palembang (4)

Banyak cerita garing, lucu, ngeselin di sepanjang perjalanan. Lumayan menghibur di saat nafas habis dan dada terbakar diperkosa tanjakan-tanjankan dan rolling-rolling panjang

Ginseng Ngantuk

Salah seorang penggowes senior peserta JSJP yang dipanggil Pak Yos terlihat gowes selalu menggunakan teknik dengan power, bukan ngicik (candencing) seperti yang lain. Rupanya, belakangan dia mengaku mengkonsumsi ginseng untuk menjaga staminanya.

Nah,  Yana peserta dari KGC pun penasaran. Dia merengek meminta rahasia kesaktian Pak Yos itu. Di etape ke-5 (Baturaja-Tanjungenim), Yana pun mengunyah ginseng sebesar ujung jari itu. Hasilnya ? Dia malah terlihat loyo dan tak berdaya. “Kayaknya, salah ginseng deh. Bukan ginseng kuat, tapi gue dikasih ginseng cepat tidur,” kata Yana pasrah.

Nasi Boks

Tahukah Anda, salah satu trauma yang “ditakutkan” para peserta JSJP? Bukan tanjakan atau cuaca panas dengan empat matahari di atas kepala, melainkan nasi boks! Ha..ha, untuk kemudahan panitia memang menyediakan nasi boks untuk makan . Bukan saja makan siang, tetapi makan malam. Isinya memang sangat memadai, memenuhi syarat gizi.

“Tetapi pas liat boks, udah nebak-nebak isinya apa” kata seorang peserta. Beberapa di antaranya, suka sengaja mencari sop atau kuah panas di luar hotel.  Beruntung panitia cepat tanggap, di beberapa etape nasi boks pun lenyap dan berganti dengan menu prasmananan. Resikonya, hidangan cepat ludes karena penggowes perutnya seperti sumur semua.

Etape palsu

Salah satu etape terberat dan terpanjang adalah etape Kotabumi-Baturaja, lengkap dengan tanjakan dang owes malam alias night ride. Di status FB, di Twitter peserta pun ramai sejak pagi ditulis, etape 3: 147 km berdasarkan ageda panitia. Lha, gowes sampai pukul 19.00 lewat dan tiba di Martapura, tim sudah menggowes 147 km ternyata belum nyampe ke Baturaja. Padahal jarak antara Kotabumi-Baturaja itu sekitar 30 km. “Kita emang akan NR sejauh itu,” ujar seorang panitia dengan wajah tanpa dosa. Lha, berarti jaraknya bukan 147 km dong.

He..he rupanya, panitia sengaja ngapusi peserta tidak mengubah jarak Kotabumi-Baturaja menjadi 167,5 km. “Kalao ditulis bisa komplen tuh mereka,” Rupanya bukan Ayu Tingting saja yang mencari alamat palsu, jarak etape pun bisa palsu  wkwkwkw…. Continue reading Garing.com — Gowes Jakarta-Palembang (4)

Gowes Jamblang ! — Gowes Jakarta Palembang (3)

“Gowes Jamblang! Maju terus, sampai tujuan!”

Yel-yel seperti itu menyemangati peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang. “Gowes Jamblang” adalah sebutan untuk “ Gowes Jakarta – Palembang” sepanjang 820 km yang terbagi dalam 7 etape dengan rata-rata jarak 100 km per etape.

JIKA dibandingkan dengan kegiatan lain, mungkin Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang merupakan hajatan Kompas Gramedia yang mendapat sambutan meriah berbagai lapisan masyarakat di berbagai kota. Rombongan peserta dan panitia saja mencapai 100 orang lebih, termasuk 52 orang penggowes, 3 di antaranya perempuan. Itu belum termasuk panitia lokal, dari kota-kota yang dilewati JSJP.

Para polisi dan patrol pengawal yang menjaga dan “membersihkan” jalan agar para peserta leluasa lewat. Iring-iringan pesepeda, mobil pengawal, motor marshal, mobil pendukung boleh jadi mencapai 1 km lebih. Tentu saja dengan akibat kemacetan sepanjang jalan. Panitia dan peserta meminta maaf atas hal itu. Untuk “memecah” kemacetan, biasanya rombongan berhenti di sebuah titik dan menunggu sampai arus kendaraan kembali mengalir, seperti di mesjid selepas tanjakan Bakahuni (Etape 2: Bakahuni _ Bandarlampung) atau di pom bensin Pesawaran (Etape 3: Bandarlampung- Kotabumi). Continue reading Gowes Jamblang ! — Gowes Jakarta Palembang (3)

”Fun Bike” Terpanjang! – Gowes Jakarta-Palembang (2)

”Fun Bike” Terpanjang!

Bagi yang tidak terbiasa bersepeda, umumnya terbayang pun tidak menjalani perjalanan sepanjang 820 km dalam tujuh etape dengan kontur jalan beragam, rolling, menurun dan menanjak. ”Enggak kebayang! Enggak akan kuat deh, ” komentar beberapa orang. Sebaliknya, bagi para pencinta olahraga bersepeda, perjalanan dengan jarak panjang—dikenal dengan touring—merupakan tawaran yang menantang. ”Yang penting bagaimana mengelola tenaga saja. Mirip fun bike dengan rute panjang. Lagian, kita tinggal gowes saja, tidak memikirkan yang lain,” ujar Cak Kris, peserta dari Kompas Gramedia Cyclist (KGC), mengibaratkan.

Tidak mengherankan jika panitia kewalahan menerima pendaftaran mereka yang berminat mengikuti JSJP. Bahkan, banyak di antara mereka yang bersedia membayar asalkan bisa ikut serta dalam perjalanan kali ini. Sejumlah pesepeda bahkan ”menguntit” tim jelajah. Satu rombongan mengikuti etape pertama Jakarta-Merak. Sementara pesepeda dari Bukit Asam, Muara Enim, mengikuti tim dari Prabumulih hingga Palembang.

Mereka yang berasal dari Jakarta beruntung karena bisa berlatih bersama setiap akhir pekan dengan menu 90-100 km. ”Latihan bersama itu lebih untuk menyamakan irama saja sehingga kami bisa kompak,” kata RC Marta Mufreni yang merangkap pelatih tim. Marta bukannya tidak khawatir dengan rombongan besar perjalanan kali ini. ”Untungnya, sebagian besar, 24 peserta, berasal dari KGC sehingga rombongan besar bisa cepat cair,” katanya.

Dalam waktu singkat, rombongan yang berasal dari sejumlah komunitas dan kota itu bisa padu dalam tim yang utuh. Solidaritas dan kebersamaan yang tinggi juga terlihat dari aksi bahu-membahu membantu mereka yang mengalami kelelahan, terutama di tanjakan-tanjakan panjang dan tajam. Selain ketahanan fisik yang bisa dilatih, satu hal penting dalam perjalanan panjang sepeda, seperti JSJP, adalah mental tidak kenal menyerah.

”Semua pasti bisa melakukan perjalanan seperti ini. Tinggal mentalnya saja disiapkan,” ujar Marta. Jika mental tidak siap, ya sudah pasti mental ya, Om? (ush)

Mengayuh Kebersamaan — Gowes Jakarta-Palembang (1)

Berjalanlah sejauh kamu mampu,

di perjalanan, kamu akan mengetahui siapa kamu sesungguhnya

Saya beruntung bisa mengikuti sebuah perjalanan sepeda cukup jauh, sekitar 820 km. Tidak sendirian memang, tetapi menjadi salah seorang dari 52 orang penggowes peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang 3-9 November 2011.

Beberapa teman sudah menuangkan kesan-kesan perjalanannya, dalam Facebook atau blog mereka. Saya menuliskannya laporan sederhana yang dimuat di Kompas, Selasa, 15 Nov 2011   Halaman: 37

Kompas Jelajah Sepeda Jakarta – Palembang 2011:

Mengayuh Kebersamaan

Tidak ada suara canda seperti tadi siang. Di malam gelap dengan jalanan ”rolling”, naik turun panjang, hanya terdengar suara kayuhan dan gesekan rantai ke ”sproket”. Lampu tidak terlalu terang menerangi jalanan yang banyak berlubang. Konsentrasi penuh, mengayuh, mata awas melihat putaran roda sepeda teman seperjalanan di depan.

Malam gelap gulita itu, kami, tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang (JSJP), harus menyelesaikan sekitar 30 kilometer etape ke-6 Kotabumi-Baturaja (167,5 km). Selepas isya, setelah diterima komunitas sepeda Martapura, kami harus menempuh perjalanan malam (night ride).

Tiba-tiba saja seorang marshal bermotor menghampiri Road Captain (RC, pemimpin perjalanan) Marta Mufreni, ”Ada yang jatuh!” Suasana terasa lebih mencekam. Kami semua menepi ke sisi kiri jalan. Kekhawatiran Aiptu Bader Balvas–dari Satuan Patwal Mabes Polri yang berada di depan rombongan pesepeda JSJP–bahwa perjalanan malam perlu kewaspadaan tinggi karena rawan kecelakaan terjadi juga.

Seorang peserta jatuh karena mengerem mendadak. Untung, Anton Sanjoyo dari Kompas Gramedia Cyclist tidak cedera akibat kecelakaan kecil tersebut. ”Saya benar-benar ngeri. Perjalanan ini sangat bahaya dan saya terus terang tegang. Kesalahan sedikit bisa mengakibatkan kecelakaan beruntun dan fatal,” ungkap Bader setelah perjalanan usai dengan selamat. Continue reading Mengayuh Kebersamaan — Gowes Jakarta-Palembang (1)