Jika Tersesat saat Gowes

Alam mempunyai kearifan sendiri, bersahabatlah dengannya.

Awan begitu rapat, menghalangi pemadangan saat kami—sekitar 17 orang – menikmati trek Curugpanjang- Telaga Warna  di kawasan Puncak, Minggu (10/01/2010). Jarak pandang hanya sekitar 10 meteran saja. Hujan merintik (drizzle) menemani kami. Pada saat terang hari trek mengasyikan di kebun teh itu sangat indah dinikmati. Namun saat cuaca kurang bersahabat memerlukan kehati-hatian yang ekstra. Bukan saja resiko terpeleset, tetapi resiko salah arah pun sangat memungkinkan. Teman di depan sejarak lebih dari 20 meter saja tidak kelihatan !

Benar saja, selepas jalan di antara kebun teh di sebuah pertigaan, setelah menggowes 3 kilometer, road captain di depan menghentikan kami. “Stop, stop pertigaan tadi seharusnya kita lurus bukan belok sini,” kata Fami, yang bergantian dengan Agus Surono menjadi RC. Beruntung, kebiasaan kami, selalu membawa radio komunikasi jika menempuh perjalanan offroad. Turunan yang baru saja dicumbui itu pun dihentikan dan kami harus kembali, menanjak menuju jalan yang seharusnya.  “Kita seharusnya menuju SD Cikoneng,” kata Gusur,

Gusur memang membekali dirinya dengan GPS. Jika tidak bukan tidak mungkin, jika tidak membawa perangkat penjejak trek itu, kami akan “kesasar” ke arah yang bukan dituju. Selanjutnya, kejadian salah jalan seperti itu biasanya menjadi canda atau ejek-ejekan di antara penggowes.

Sering terjadi

Kejadian tersesat atau kesasar bukanlah hal aneh di antara penggowes cross country. Akhir Desember lalu, seorang teman saya, juga tersesat saat menggowes di kawasan Cikole, Lembang. Gun, teman itu, menggowes pada sore hari dari kawasan bumi perkemahan (camping ground) Cikole pada sore hari. Keasyikan menggowes, dia tidak menyadari hari menggelap dan kehilangan orientasi. Upaya meneruskan trek menjadi sia-sia, karena dia juga pertama kali menggowes di kawasan itu.

Beruntung, telepon genggamnya bisa berfungsi sehingga bisa menghubungi teman-teman untuk mencari bantuan. Setelah meninggalkan sepeda kesayangannya di hutan, dia berjalan kali dan mencari kampung terdekat. Gun selamat dan bisa menemukan kampung terdekat sekitar pukul 21.30 malam (!). Untuk kembali ke Cikole, dia mendapat bantuan dari rekan-rekan pencinta alam Palawa Unpad Bandung yang menjemputnya untuk kembali ke “peradaban”.

Gun, bukanlah penggowes pertama yang “tersesat”. Beberapa goweser mengalami hal serupa. Menurut penuturan Ratih Prahesti, wartawati Kompas yang bertugas di Bogor, di kawasan Gunung Pancar, Pondok Pemburu dan sekitarnya, kejadian penggowes tersesat seringkali terjadi.

“Pernah, petugas menemukan kelompok pesepeda– mungkin ada 11 orang— ditemukan sekitar jam 23 malam! Mereka ditemukan dalam keadaan kepayahan, tidak ada makanan dan minuman,” ceritanya. Polisi umumnya menerima laporan kehilangan dari keluarga atau kerabat para penggowes yang tersesat tadi.

Pernah pula, satu kelompok biker ditemukan setelah radio komunikasi para penggowes di Gunung Pancar terhubung dengan anggota Orari di kawasan Bekasi (!), juga malam hari. “Mereka ditemukan setelah pihak Orari Bekasi, berkoordinasi dengan polisi di kawasan Sentul,” kisah Ratih.

Kawan-kawan saya di KGC juga ada yang sempat tersesat di kawasan Gunung Pancar itu. Saya yang pernah dua kali ke mencoba trek tersebut. Sekilas memang dipastikan, untuk menikmati XC di kawasan itu perlu guide atau pendampung dari  mereka yang pernah menggowes ke sana, terutama dari arah Pondok Pemburu ke Gunung Pancar. Bukan melulu, trek yang sulit untuk digowes, mungkin sekitar 60-70 persen punggungan gunung, yang licin dan menurun tajam seusai hujan. Beberapa ruas lintasan juga, sudah terhalang alang-alang. Jika tidak bersama orang yang berpengalaman atau pernah ke sana, niscaya tidak akan percaya jalan tersebut bisa dilintasi. Belum lagi begitu banyak cabang-cabang jalan. Trek yang terlihat sering dilewati, bahkan, bisa mengantar kita ke arah tersesat.

Biasanya kita mentertawakan dan mengolok-olok kejadian tersesat itu, setelah kita selamat. Tetapi rasanya, perlu diingatkan, tersesat di hutan– dalam kegiatan outdoor seperti sepedaan di hutan– bisa berakibat fatal.

Bersepeda XC, off road memasuki kawasan hutan apa pun, harus disamakan dengan kegiatan alam bebas lainnya..  Intinya, pengetahuan mengenai sepeda kita rupanya tidaklah cukup untuk menjelajah trek liar atau ekstrem di hutan atau alam bebas. Perlu kematangan dan keterampilan lain untuk melakukannya. Beberapa dasar pengetahuan bertahan di alam bebas, sedikitnya perlu diketahui.

Berikut beberapa tips jika kita tersesat di hutan yang saya kumpulkan dari sedikit pengetahuan saya, dan lebih banyak lagi dari teman-teman penggowes.

Jaga-jaga sebelum tersesat:

1. Jika XC atau off road ke hutan paling asyik jika menggowes bersama teman-teman pasti lebih seru. Hindari menggowes sendiri ke hutan. Tetapi jika berangkat seorang diri, sebaiknya memberitahukan ke keluarga atau teman mengenai rencana perjalanan Anda, termasuk waktu yang dibutuhkan dan perkiraan tiba.  Jika ada keanehan, terlalu lambat tiba, mereka akan menjadari bukan?

2. Siapkan peta trek sepeda dan kompas. Syukur-syukur memiliki GPS lengkap dengan trek sepeda  yang akan ditempuh kita.

3. Sebaiknya Anda cari tahu sebanyak-banyaknya daerah atau trek yang akan Anda lalui. Tanya kepada mereka yang pernah mencobanya, baca internet dan tandai tempat, persimpangan dan tanda-tanda khusus lainnya.

4. Usahakan menggowes di trek yang tersedia. Hindari  menggowes ke luar jalur, terutama di lokasi yang sama sekali asing atau tidak Anda kenal. Jangan merasa jagoan, jika ragu lebih baik kembali.

5. Paling gampil memang meminta bantuan pemandu jalan. Teman-teman gowes di berbagai daerah pasti bersedia menemani. Beberapa toko sepeda  tertentu bahkan menyediakan tenaga pemandu jalan.

6. Jersey dan helm yang berwarna-warni cerah memudahkan kita terlihat di hutan.

7. Jangan menggowes mulai sore hari, apalagi malam di hutan atau lokasi terpencil.

8. Jangan lupa bawa tools, ban dalam, senter, P3K dan makanan cadangan yang cukup. Kue, biskuit yang mengandung gula atau coklat disarankan.

9. Bawa alat komunikasi, peluit, HT atau HP (syukur-syukur bawa batere cadangan, lindungi dari air)

10. Selalu mengingat keadaan sekitar. Tinggalkan jejak, tandai tempat-tempat tertentu jalan cabang, pohon tertentu (check point)

11.  Hormati kebiasaan penduduk sekitar, termasuk larangan memasuki kawasan tertentu pada hari tertentu. Mereka biasanya memilik kearifan lokal tersendiri mengenai daerahnya.

Jika Terlanjur Tersesat:

  1. Jangan panik, tenangkan diri dan lakukan orientasi medan.
  2. Jangan melakukan aktivitas berlebihan, hemat tenaga.
  3. Pergunakan alat komunikasi untuk menghubungi teman-teman.
  4. Jika medan tidak memungkinkan dan merepotkan, tinggalkan sepeda Anda. Tandai lokasi agar jika sudah memungkinkan bisa diambil kembali.
  5. Jika gelap menjelang, lebih baik berhenti atau beristirahat karena berjalan di malam hari di daerah tak dikenal, berbahaya dan bisa berakibat fatal. Kelap-kelip lampu di perkampungan di malam hari, bisa menjebak. Seolah-olah tempat itu dekat, padahal jurang menanti jika kita memaksa menuju ke sana. Lebih baik beristirahat di tempat yang aman: ceruk atau di antara pepohonan.
  6. Peluit, asap, cahaya senter bisa menarik perhatian.
  7. Jika meninggalkan lokasi selalu meninggalkan jejak seperlunya
  8. Peta dan kompas akan membantu Anda ke luar dari lokasi, apalagi jika Anda sudah membekali diri dengan ilmu navigasi darat.

Mungkin bagi Anda, semua itu terlihat berlebihan.Tetapi seperti pepatah lama, sedia payung sebelum hujan; Berjaga-jaga sebelum kejadian, tidak ada salahnya. (#naskah lama tersimpan, dikirim ke sebuah majalah hobby, gak jelas nasibnya. Ya, saya pasang di sini aja ya… USH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *