Lost in Cikole (1)

KAMIS (24/12) selepas maghrib, saya mendapat kontak dari Gusur, teman KGC (Kompas Gramedia Cyclist) yang mengabarkan seorang teman tersesat saat offroad bersepeda di trek Cikole, Lembang Saya kebetulan sedang ternak teri di Yogya, segera menepikan kendaraan dan mengontak, Gun, teman yang dilaporkan tersesat itu.
Begitu terhubung, terdengar nada panik, was-was, nafas terengah-engah dan mungkin sieun darinya. “Saya enggak tahu di mana, bah. Di tengah hutan, gelap dan enggak tahu jalan pulang !!”.
Rupanya Gun, yang malam itu rencananya berkemah bersama keluarga menyempatkan diri gowes ke trek Cikole, menjelang sore. Trek Cikole sebenarnya cukup familiar bagi para pesepeda offroad. Dengan vegetasi pinus seperti hutan-hutan di seputaran utara Bandung, trek itu cukup menyenangkan untuk dicumbui.
Saya mencoba menenangkan Gun, dan meminta menghidupkan GPS di BB-nya, tadinya biar kita tahu lokasi dia di mana dan dari maps bisa mengarahkan dia ke mana. Tetapi rupanya, dia seperti “monyet ngagugulung kalapa” alias enggak tahu make GPS di BB. Jika dihubungi nada bicaranya semakin panik, nafas terengah, dan siga rek ceurik… 🙂 Sebuah gejala yang wajar.
Peta yang saya terima lewat BBM– saya teruskan juga ke Gusur– hanya mengirimkan peta dasar, yang menandakan dia berada di seputaran Sumedang. Rasanya agak tidak mungkin. Padahal jika dia kenal memakai GPS di BB, setidaknya akan ketahuan posisi kita berada di mana. Gusur yang lumayan gape membaca peta juga rupanya kesulitan mengetahui lokasi persis Gun di hutan.

Saya mencoba mengontak teman-teman Kompas Bandung, beberapa rupanya offline, mungkin sedang berlibur Natal. Alex dan Kang DMU, teman Kompas Bandung, yang berhasil dihubungi sedang mengarah ke Jakarta tetapi dia akan mencoba mencari bantuan,
Semakin malam, sekitar pukul 20.00 saya kirim BBM Kang Bano– teman saya di klub pecinta alam Palawa Unpad–perihal adanya teman
yang tersesat di Cikole. Rupanya, Bano meneruskan pesan saya itu ke Kang Onath. Dasar Palawa sejati, si senior yang jago motret itu dari Bandung langsung mengontak saya di Prambanan, malam itu. Saya ceritakan kronologis kejadian. Ke Bano dan Kang Onath, saya sempat bilang, tahan dulu untuk bergerak. Siapa tahu, Gun bisa menemukan perkampungan…
Saya pun tetap menjaga kontak dengan Gun. Bagaimana pun untuk menjaga baterei ponsel, kontak dengannya harus dibatasi. Saya sempat khawatir, ketika dia bilang melihat kerlip lampu di rumah penduduk. Khawatir dia menerobos dan memaksa “mengejar” perkampungan itu, yang menurutnya “dekat dan sudah terdengar suara adzan”.

Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad
Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad

“Kumaha ya, di depan saya jurang, kiri kanan juga gawir,” katanya. Saya teringat, beberapa kejadian konyol dari orang tersesat di gunung atau hutan adalah mencoba mendekat kerlip lampu dengan menerobos medan yang tidak memungkinkan.. Mereka terjerumus ke jurang dan akibat fatal.

Bagaimana pun, kejadian tersesat seperti ini bisa menjadi “lain ceritanya dan bisa panjang” jika salah langkah.
Saya sarankan— seperti juga saran Cak Kris, pentolan KGC– sepedanya ditinggal saja di hutan dan coba berjalan kaki jalan makadam, dengan asumsi jalan seperti itu mengarah ke perkampungan. Akhirnya, dia memutuskan kembali naik ke trek dan mencoba menemukan makadam.
Alhamdulillah, sekitar pukul 21.00 lewat dia tiba di sebuah kampung berpenduduk. Namanya, Cikareumbi, Cikidang Lembang.. lumayan jauh dari Cikole.
Saya segera mengontak Kang Onath, dan mengabarkan hal itu. Waduh, ternyata Kang Onath memang Palawa sejati. Dia bersama Kang Opik sudah mengarah ke lokasi untuk meng- SAR Gun. Mendengar kabar terbaru, Kang Onath dan
Kang Opik pun segera memutuskan untuk tetap menjemput Gun di Cikidang dan mengembalikannya ke keluarganya di Camping Ground Cikole, malam itu juga…
Gun setelah dievakuasi Kang Onath dan Opik, sangat bersyukur. Dia bilang harus bagaimana kepada teman-teman itu. Saya sampaikan, cukup peluk mereka: “Mereka ada saudara-saudara sejati saya…
Malam itu saya kembali mendapat kepastian satu hal yang tidak meragukan, “teman, para sahabat adalah segalanya, dan tak ternilai…”
Atas nama pribadi, Gun dan KGC saya mengucapkan hatur nuhun pisan kepada Kang Onath, Kang Opik yang sudah mau direpotkan….
Viva Palawa Brotherhood !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *