Home > Sasapedahan > Lost in Cikole (1)

Lost in Cikole (1)

December 29th, 2009 Leave a comment Go to comments

KAMIS (24/12) selepas maghrib, saya mendapat kontak dari Gusur, teman KGC (Kompas Gramedia Cyclist) yang mengabarkan seorang teman tersesat saat offroad bersepeda di trek Cikole, Lembang Saya kebetulan sedang ternak teri di Yogya, segera menepikan kendaraan dan mengontak, Gun, teman yang dilaporkan tersesat itu.
Begitu terhubung, terdengar nada panik, was-was, nafas terengah-engah dan mungkin sieun darinya. “Saya enggak tahu di mana, bah. Di tengah hutan, gelap dan enggak tahu jalan pulang !!”.
Rupanya Gun, yang malam itu rencananya berkemah bersama keluarga menyempatkan diri gowes ke trek Cikole, menjelang sore. Trek Cikole sebenarnya cukup familiar bagi para pesepeda offroad. Dengan vegetasi pinus seperti hutan-hutan di seputaran utara Bandung, trek itu cukup menyenangkan untuk dicumbui.
Saya mencoba menenangkan Gun, dan meminta menghidupkan GPS di BB-nya, tadinya biar kita tahu lokasi dia di mana dan dari maps bisa mengarahkan dia ke mana. Tetapi rupanya, dia seperti “monyet ngagugulung kalapa” alias enggak tahu make GPS di BB. Jika dihubungi nada bicaranya semakin panik, nafas terengah, dan siga rek ceurik… :) Sebuah gejala yang wajar.
Peta yang saya terima lewat BBM– saya teruskan juga ke Gusur– hanya mengirimkan peta dasar, yang menandakan dia berada di seputaran Sumedang. Rasanya agak tidak mungkin. Padahal jika dia kenal memakai GPS di BB, setidaknya akan ketahuan posisi kita berada di mana. Gusur yang lumayan gape membaca peta juga rupanya kesulitan mengetahui lokasi persis Gun di hutan.

Saya mencoba mengontak teman-teman Kompas Bandung, beberapa rupanya offline, mungkin sedang berlibur Natal. Alex dan Kang DMU, teman Kompas Bandung, yang berhasil dihubungi sedang mengarah ke Jakarta tetapi dia akan mencoba mencari bantuan,
Semakin malam, sekitar pukul 20.00 saya kirim BBM Kang Bano– teman saya di klub pecinta alam Palawa Unpad–perihal adanya teman
yang tersesat di Cikole. Rupanya, Bano meneruskan pesan saya itu ke Kang Onath. Dasar Palawa sejati, si senior yang jago motret itu dari Bandung langsung mengontak saya di Prambanan, malam itu. Saya ceritakan kronologis kejadian. Ke Bano dan Kang Onath, saya sempat bilang, tahan dulu untuk bergerak. Siapa tahu, Gun bisa menemukan perkampungan…
Saya pun tetap menjaga kontak dengan Gun. Bagaimana pun untuk menjaga baterei ponsel, kontak dengannya harus dibatasi. Saya sempat khawatir, ketika dia bilang melihat kerlip lampu di rumah penduduk. Khawatir dia menerobos dan memaksa “mengejar” perkampungan itu, yang menurutnya “dekat dan sudah terdengar suara adzan”.

Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad

Wajah panik saat trsesat di hutan. Tx tmen2 Palawa Unpad

“Kumaha ya, di depan saya jurang, kiri kanan juga gawir,” katanya. Saya teringat, beberapa kejadian konyol dari orang tersesat di gunung atau hutan adalah mencoba mendekat kerlip lampu dengan menerobos medan yang tidak memungkinkan.. Mereka terjerumus ke jurang dan akibat fatal.

Bagaimana pun, kejadian tersesat seperti ini bisa menjadi “lain ceritanya dan bisa panjang” jika salah langkah.
Saya sarankan— seperti juga saran Cak Kris, pentolan KGC– sepedanya ditinggal saja di hutan dan coba berjalan kaki jalan makadam, dengan asumsi jalan seperti itu mengarah ke perkampungan. Akhirnya, dia memutuskan kembali naik ke trek dan mencoba menemukan makadam.
Alhamdulillah, sekitar pukul 21.00 lewat dia tiba di sebuah kampung berpenduduk. Namanya, Cikareumbi, Cikidang Lembang.. lumayan jauh dari Cikole.
Saya segera mengontak Kang Onath, dan mengabarkan hal itu. Waduh, ternyata Kang Onath memang Palawa sejati. Dia bersama Kang Opik sudah mengarah ke lokasi untuk meng- SAR Gun. Mendengar kabar terbaru, Kang Onath dan
Kang Opik pun segera memutuskan untuk tetap menjemput Gun di Cikidang dan mengembalikannya ke keluarganya di Camping Ground Cikole, malam itu juga…
Gun setelah dievakuasi Kang Onath dan Opik, sangat bersyukur. Dia bilang harus bagaimana kepada teman-teman itu. Saya sampaikan, cukup peluk mereka: “Mereka ada saudara-saudara sejati saya…
Malam itu saya kembali mendapat kepastian satu hal yang tidak meragukan, “teman, para sahabat adalah segalanya, dan tak ternilai…”
Atas nama pribadi, Gun dan KGC saya mengucapkan hatur nuhun pisan kepada Kang Onath, Kang Opik yang sudah mau direpotkan….
Viva Palawa Brotherhood !!

Categories: Sasapedahan Tags: , , ,
  1. Deny
    December 29th, 2009 at 14:12 | #1

    Alhamdulillah…makanya lain kali mah mending bawa kompas manual kang gun!

  2. December 29th, 2009 at 16:09 | #2

    Alhamdulillah berhasil keluar dari hutan di tengah malam. jadi pengalaman berharga buat saya juga nih…

  3. December 30th, 2009 at 09:01 | #3

    salut buat palawa..

  4. tjahja gunawan
    December 30th, 2009 at 09:52 | #4

    sampe sekarang saya masih rewasss (kaget) kalo inget saat2 panik di Hutan Cikole. gowesnya ga kapok…cuma kalo ke tengah hutan sendirian lagi masih trauma. Tapi kalo di dalam hutannya gowes bareng hayuuu aja…he…he…

  5. Richard
    January 1st, 2010 at 13:36 | #5

    jangankan nyasar di hutan…kita aja kalo nyasar di mal suka kelimpungan…
    salut buat palawa..
    Lesson learned buat saya : Never Ride alone in d’jungle”

  6. January 1st, 2010 at 19:58 | #6

    @deny, hamzirwan, diditho, tjahya, richard: yup, semoga ini menjadi pembelajaran berharga buat kita semua.

  7. boyan
    January 24th, 2010 at 19:49 | #7

    nepangkeun kang agus, saya boyan..
    Kebetulan saya dgn teman juga pernah lewat trek yg kayanya hampir sama, cuma saya masuk dari perbatasan Bandung – Subang, emang saya ikutin terus jalan menuju ke arah selatan.. eh eh eh apek teh jurang (lumayan panik juga), maka saya putusin balik ke jalan semula & cari simpangan ke arah barat, alhamdulillah akhirnya nyampe buper cikole lalu saya terusin lagi ke daerah cikarembi sampe ke maribaya.. Kebtulan itu juga sudah sore & yg saya rasakan disana sepi pi pi.. cuma suara kami, angin & kicau burung..
    Mudah2an sharing saya bisa berguna juga buat yg lainnya.
    Nuhun pisan..

  8. January 26th, 2010 at 07:32 | #8

    @boyan
    salam kenal, kang boyan..
    nuhun sharingnya. intinya: “ragu-ragu, lebih baik kembali…”
    kapan-kapan anter ah kalo saya gowes ke sana…

  9. July 25th, 2011 at 22:05 | #10

    Sahabat gowesss memang tiada duanya. Asik membaca dan salam dari saya kalau ketemu Parakitri Maturnuhun.

  10. July 27th, 2011 at 18:45 | #11

    Wah, bacanya menarik dan cuup menegangkan, asa keren sharingnya… pas kejadian ini saya di BBM sama teman2 MTB di Bandung kalo hari itu ada yang tersesat, ternyata cerita lengkapnya ada disini… nuhun Kang Agus.

  11. eno
    February 6th, 2012 at 09:31 | #12

    hihi.. cerita ini udh pernah sy dengar. baru skr baca tulisannya.. nyasab tp seru! jgn kapok ya.. :)

  1. January 25th, 2010 at 21:38 | #1