Soto SBY, Jamu Soeharto..

sby.jpgWAKTU jaman Orde Baru dulu, kayaknya kalo enggak salah, semasa saya SMP, ada merek jamu yang sangat terkenal. Jamu Soeharto, namanya. Jamu itu dipercaya orang kampung saya bisa menggemukan badan. Enggak tahu benar tidaknya, cuma beberapa tetangga saya, memang mengaku, setelah  minum itu jamu, badannya jadi menggemuk. Kelihatan sekali perubahan fisiknya. Pipi mereka jadi tembem-tembem. Chubby..! 🙂 ” Coba deh minum jamu Soeharto,” katanya. Pokoknya, setelah minum jamu yang mereknya mirip nama Presiden saat itu, rakyat pun bisa tampak makmur, seperti para pemimpinnya. Gemuk ,lama dianggap sebagai lambang kemakmuran..
Katanya, setelah minum jamu Soeharto, nafsu makan jadi bertambah. Mungkin ada atau tidak ada lauk, nasi plus garam pun enak saja dimakan. Pokoknya bawaannya, lapar melulu. Selain itu, menurut para peminum jamu, mereka juga menjadi ngantukan. Tunduh terus,” Maklum, di kampung kan mau siesta atau tidur siang jam berapa pun tinggal merem. Selain karena umumnya mereka bukan orang kantoran, mereka biasanya cuma pekerja lepas atau  petani penggarap. Bahkan, kebanyakan pengangguran, putus sekolah.
Belakangan saya agak mengerti, kenapa orang yang makan jamu Soeharto itu, menjadi gemuk. Terang aja cepet gemuk, lha kerjanya cuma makan dan tidur!
Pokoknya, walaupun belum ramai musim iklan atau campaign manager, kepopuleran jamu Soeharto semakin menjadi-jadi. “Ingin gemuk, makan jamu Soeharto!” Tagline itu bukan bikinan si pabrik jamu, tetapi  beredar dari mulut ke mulut. Gethok tular..
Begitulah, rupanya kepopuleran jamu Soeharto itu tak terbendung. Boleh jadi penguasa Orde Baru resah juga. Lha, masak nama Presiden disamakan dengan merek jamu. Seolah-olah pula, menjadi presiden itu urusannya cuma soal kegemukan alias kemakmuran. Kalau diteruskan pertanyaannya kan jadi repot. Kemakmuran itu hartanya didapat dari mana. Apakah presiden itu kerjanya pidato,  makan dan tidur, makanya gemuk. Enak betul jadi presiden…
Mungkin setelah itu, seingat saya, merek jamu itu menghilang. Para pengguna jamu maupun calon pengguna jamu pun yang ingin seperti Soeharto, eh, pengen gemuk pun bertanya-tanya. Mereka mencari-cari ke berbagai toko obat, warung jamu hingga ke Mbak Jamu Gendhong.. Jamu Soeharto lenyap, hilang dari pasaran! Entah diculik atau disukabumikan, pokoknya jamu Soeharto seperti ditelan bumi.
Beberapa lama kemudian, muncul jamu dengan merek lain. Kalau tidak salah, namanya, Jamu Jawadwipa. Sama-sama, disebutkan jamu merek baru itu buat menggemukan badan. Bisik-bisik, kemudian beredar, nama Soeharto dilarang dipakai untuk  merek  jamu. Pemiliknya sudah ditegur oleh penguasa Orde Baru–yang organnya ada hingga ke tingkat RT–untuk mengganti merek jamunya. Maklum, kultus individu sudah terjadi terhadap penguasa Orde Baru itu.  Jadilah, merek Soeharto diganti menjadi jamu Jawadwipa. Waktu itu saya belum menjadi wartawan– masih pake celana pendek, masak jadi wartawan…? 🙂 — jadi tidak pernah mengecek dan merecheck kebenaran cerita itu, yang sebagian saya dengar dari mencuri pembicaraan orang dewasa.
sb2.jpgIngatan masa kecil saya itu, terbuka kembali beberapa hari lalu. Pertama, saat saya melewati kawasan Pondok Pinang. Lainnya, saat mengantar mantan pacar saya ke Pasar Modern BSD. Di Pondok Pinang saya lihat ada warung soto ayam SBY. Di bilangan BSD, bebek bakar nasi uduk SBY. Sayang, saya belum sempat mampir ke warung-warung itu. Jadi, saya belum sempat bertanya-tanya apakah merek SBY dimaksud itu singkatan dari Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyebut dirinya SBY. (“Ini bukan isu, bukan gosip, bukan rumor, ini data intelejen…) ? Atau, SBY itu singkatan dari nama kota, Surabaya yang memang lama dikenal dengan singkatan SBY, seperti halnya Bandung dengan BDG, atau Jakarta dengan JKT?

Saya cuma khawatir saja, enggak lama kemudian, kreativitas merek warung soto dan nasi uduk itu segera berakhir. Mungkin pikiran itu muncul karena trauma masa kecil saya, yang hidup di jaman Orde Baru. Bisa saja kan, di jaman yang (katanya) kini  Orde Sangat Baru kini, ada keberatan dari pihak atau mengaku pihak SBY. Lha, kan.. jangan sampai misalnya, muncul pikiran orang yang membaca nama SBY di warung itu mikirnya, macem-macem. “Wah, Pak SBY sekarang buka warung soto,”. Apalagi kalau dipolitisir, “Wah, setelah habis-habisan kampanye pilpres kemarin, modalnya habis jadi nyari tambahan bikin warung soto dan bebek bakar,” “Wah, buat gantiin dana yang kepake buat iklan mirip indomie, sekarang malah bikin warung soto mie..”…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *