Cipika Cipiki

Entah dari mana asalnya,  sudah agak lama saya perhatikan aksi cipika-cipiki sudah seperti sudah menjadi kebiasaan orang kita. Sudah membudaya malah. Apalagi pejabat, wah setiap bertemu, : salaman terus dilanjutkan dengan cipika cipiki. Cium pipi kiri, cium pipi kanan. Menempelkan satu-satu bagian pipinya ke pejabat lainnya. Belakangan, malah tidak hanya melanda pejabat tetapi sepertinya sudah memasyarakat.  Kalau perempuan atau wanita sih biasa melakukan itu. Saya maklum, dan senang memperhatikannya. Mungkin cipika cipiki itu ungkapan rasa rindu, rasa sayang, rasa kangen, rasa-rasa baik lainnya. Biasa juga dilakukan kalau ada spesial moment, seperti ulang tahun, berhasil mencapai sesuatu  atau baru mendapat penghargaan ini-itu. Biasanya dari mulutnya juga ramai terungkap rasa kangen atau rindu mereka. “Gimana jeng, apa kabar jeng?  Suami masih kerja di tempat lama? anak-anak bagaimana? Si Putri katanya udah tunangan ya? ” dan seterusnya.

Seingat saya– ini juga kalau tidak salah–kebiasaan itu mulai ramai waktu jaman Pak BJ Habibie menjadi Menristek dan seterusnya menjadi Wakil Presiden. Nah, beliau kan memimpin satu organisasi yang namanya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia). Setiap ada acaraPak Profesor, saya lihat di televisi, terlihat di televisi acara cipika-cipiki itu berlangsung. Kebiasaan itu mengental sejak jaman Orba hingga Orbaba (Orde Baru Banget) kini. Saya sungguh tidak tahu, apakah cipika-cipiki itu kebiasaan muslim atau orang Arab. Katanya, orang Arab juga kalaupun melakukan itu hanya satu pipi sajalah. Entahlah, saya sedang terus berusaha mencari referensi soal cipika cipiki itu. Syukur-syukur ada yang segera memberi  tahu, cerita jadi saya perburuan saya soal referensi cipika-cipiki itu segera berhenti…

Cuma saya terus terang agak geli juga kalau melihat bapak-bapak melakukan cipika cipiki itu. Wah, paling deg-degan deh pas saya datang ke satu acara terus ternyata di situ ada “kebiasaan” cipika cipiki bapak-bapak. Waduh, kalau dengan tante-tante atau wanita idaman sih saya enggak pernah nolak untuk melakukan itu. Bahkan, seringkali malah mencuri-curi kesempatan. Lumayan kan?

Nah, kalau ada bapak-bapak, teman apalagi orang enggak kenal, ketemuan, salaman terus menyosorkan pipinya untuk dicipika cipiki …. hii…h memerlukan perjuangan sendiri deh. Apalagi kalau orangnya brewokan, pasti geli banget. Hik!!   Biasanya saya berusaha menghindar dengan cara memeluk orang yang siap pasang pipi untuk dicipika-cipiki. Atau, cuma mengadukan kepala saya, agar kena rambutnya saja. Kebayang, bukan cuman bau rokok atau bau lain dari mulutnya, tetapi juga bapak-bapak atau pria pada umumnya itu pipinya suka berminyak. Rasanya begitu selesai melakukan adegan mengerikan itu, rasanya ingin segera lari ke kamar mandi atau wastafel untuk mencuci muka bersih-bersih, menggunakan sabun tangan yang ada di wastafel pun enggak apa. Yang penting, saya (merasa) bersih… sih !! Kalau perlu sekalian berwudlu untuk membersihkan diri dan jiwa saya setelah berciuman pipi sesama jenis. Haram kan?

Belakangan saya sering sinis. Bukan apa-apa, ketika melihat satu adegan di televisi atau panggung lainnya ada pejabat atau elit negeri atau orang penting lainnya melakukan itu saya menjadi sangat trauma  akan sesi cipika-cipiki itu. Bukan apa-apa, banyak di antara mereka itu sepertinya bukan orang-orang panutan saya– dan orang kebanyakan mungkin. Banyak di antara mereka itu tersangka korupsi atau koruptor beneran, penjahat, pelanggar HAM, dan pelaku-pelaku ketidakadilan lain. Jadi ketika ada satu acaran di mana saya diundang, terus ada ritual cipika-cipiki itu rasanya sangat ingin segera kabur ke kamar mandi untuk segera cuci muka….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *