Manusia Lebih Galak dari Macan?

Enggak ada macan makan anaknya. Atau, segalak-galaknya macan, enggak akan makan anaknya. Peribahasa itu dibuat biasanya untuk menunjukan, sejahat-jahatnya ortu enggak akan deh menganiaya anaknya.Kalaupun memarahi, katanya, ya itu cuma ungkapan kasih sayang saja.
Makanya, saya enggak ngerti banget kalau ada ortu menyiksa anaknya dari menjewer, menampar, memukul, bahkan memecutnya dengan kopel atau ikat pinggang.
Coba ini baca berita di Kompas Minggu (15/3) kemarin.
Sayang dibikin di kolom Kilasan Peristiwa– biasanya diisi cerita lucu atau ringan– mungkin berita anak menyiksa anak itu dianggap lucu ya? Padahal menurut saya, kejadian itu sama sekali enggak lucu. Mungkin mereka yang menempel di rubrik itu biasa menonton film komedi murahan dengan humor-humor slapstick, yang biasanya menganggap kecelakaan atau kemalangan yang diderita orang lain itu pantas ditertawakan. Atau, penggemar komedi hitam yang menganggap membunuh dengan silet terus disiram air asem atau cuka adalah lucu sekali…
Tindakan ortu menganiaya anaknya adalah tindakan biadab.
Orang tua gaya preman yang bertindak kriminal semestinya dihukum setimpal.

Kena Tendangan “Maut” Ayah Sendiri

Sudah seminggu ini Joko Budi Utomo (4) terbaring di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, dengan kaki berbalut gips. Ia terus mengerang kesakitan menahan nyeri akibat patah tulang kaki kanannya.

Menurut Sumiyati (38), ibu kandung Joko, kaki Joko patah tulang lantaran ulah Priyanto (32), ayah kandungnya sendiri. Pada Kamis (8/1), warga yang tinggal di Dukuh Sawahan, Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora, itu meminta Joko membeli susu untuk Ika (1), adik tirinya.

Dasar anak balita, Joko lebih tertarik membeli permen ketimbang susu sebagaimana pesanan ayahnya. Melihat Joko pulang membawa permen dan bukan susu, sontak Priyanto berang dan menendang kaki kanan Joko, pas di bagian selangkangan.

Joko tersungkur dan menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kaki Joko tak lagi normal, Priyanto segera melarikannya ke Rumah Sakit Daerah Kabupaten Blora. Setelah pemeriksaan, dokter rumah sakit itu merujuk Joko dibawa ke Rumah Sakit Telogorejo.

Kepala Kepolisian Resor Blora Ajun Komisaris Besar Umar Faroq melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Priharyadi mengatakan, Joko ikut Priyanto sejak sang ayah pisah ranjang dengan Sumiyati. Joko tinggal bersama Kartini (39), istri tak resmi Priyanto, dan Ika, anak kandung Priyanto dan Kartini.

Menurut pengakuan, Priyanto baru pertama kali ini menganiaya Joko karena tidak mampu membendung emosi. Apa pun alasan pelaku, tindakan itu tergolong kekerasan dalam rumah tangga dan pantas mendapatkan sanksi hukum.”Priyanto terancam hukuman pidana penjara lima tahun dan denda Rp 100 juta,” kata Kepala Polres Blora Priharyadi.(HEN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *