Ada Yudhoyono di Mana-mana

SERIBU SATU cara terlalulah sedikit untuk meluncurkan berbagai macam jenis kampanye. Saya sendiri merasa amat terkepung. Ke mana mata mengarah, searah putaran jam selalu dihadapkan pada poster-poster, spanduk dan baliho. “Keluhan” ini bukan hal baru, banyak warga masyarakat yang diam-diam mengalami stress dan terkena calegcapresphobia. Telinga juga hampir mampat dijejali, nyanyian dan slogan kampanye.
Televisi kurang apa lagi. Bukan cuma melulu berita artis cerai-berai atau selingkuh rebutan “anu” — anu di sini maksudnya bisa apa saja, dari harta gono gini sampai harta gini-gini aja..– tetapi juga iklan-iklan kampanye.

Banyak orang bernasib sama seperti saya. Tetapi saya tidak tahu, berapa orang yang masih normal dan belum gila seperti saya. (Katanya, orang yang mengaku tidak gila itu disangsikan ya kenormalannya?) Saya bersyukur masih bersabar hati. Pernah dalam sehari, saya mendapat sekian banyak SMS dari tim kampanye SBY–  nomornya bisa lain-lain, termasuk dari Bravo Media  Center– yang sepertinya berisi beritakehebohan. Berikut saya kutipkan salah satu di antaranya, “Ada info nih, sore nanti jam 6 di Bravo Media Center milik SBY dan Demokrat, kawan2 wartawan dikumpulin untuk menonton bareng wawancara ekslusif SBY di Metro TV. isinya tetang hubungan SBY dengan Mega, JK, dan capres lainnya. Ada pula komentar tentang wapresnya SBY. Habis itu ada tanggapan dan komentar dari pengurus DPP Demokrat dan pengamat politik tentang isi wawancara itu. Ini kemajuan namanya”

SMS (25/2/2009; 13:14:47) lainnya begini, “Saksikan malam ini di Metro teve pukul 19.0 dan Indosiar pukul 20.00. Akhirnya SBY Bicara!! Andaikan diam itu emas, maka bila tiba waktunya berbicara maka bicara adalah berlian. Menjadi pemimpin adalah amanah. setiap kata yang terucap adalah tanggungjawab, Kini saatnya ia buka suara, mengalirkan pemikiran, berbagi persoalan. menjawab berbagai tudingan, kritikan dan kecaman yang dialmtkan kpdnya. Mari simak pendapat SBY melihat pertarungan politik di 2009. Sebarkan !! Bravo Media center” Saya sih, senyum saja. Gapapa kan namanya juga musim kampanye. Kecap selalu Nomor 1, bukan?

Sebagai wartawan biasa– yang seringkali ketinggalan berita, he..he..– saya senang saja mendapat kabar atau informasi sekecil apa pun. Sangat berterima kasih tentu saja. Cuma entah ya, saya kok rasanya, kesel banget menerima SMS-SMS propaganda seperti itu. Terlalu sering, berlebihan dan melanggar privasi saya.
Saya sendiri sudah membalas dengan baik. “Terima kasih infonya. Nanti saya pantau,” Tetapi, ya Tuhan, SMS-SMS itu terus berulang-ulang. Saya kirim SMS lagi, “Tolong jangan terlalu sering ya SMSnya karena saya terganggu” Eh, si pengirim SMS merespon pula dengan baik. “Maaf mas,” katanya. Ya, tapi teuteup aja SMS
serupa dikirim lagi, dikirim lagi.

Acaranya sendiri seperti sudah kita lihat, ya wawancara SBY saya lihat di sela-sela kesibukan saya bekerja, malam itu.  Yudhoyono menjawab berbagai hal, dari soal Megawati sampai Wapresnya yang kini—katanya– menjadi pesaingnya  sebagai capres. Saya tidak tahu apakah itu pertanyaan dan jawaban-jawaban spontan, atau memang sudah diskenariokan. Silakanlah, Anda meneba-nebak sendiri.
Saya sendiri bersuudzon, tepatnya mungkin kritis :)– dengan berondongan SMS sepanjang siang hingga sore– itu wawancara di televisi itu tentu saja, “tidak murni”. Waktu siarnya pun disiapkan. Mungkin isitilahnya, blocking time ya. Soalnya setelah wawancara itu juga ditayangkan pidato-pidato, eh, keberhasilan Pak SBY. Selamatlah, sudah banyak keberhasilan. Kalau liat di teve dan iklan-iklan, sepertinya rakyat kita sudah gemah ripah loh jinawi lagi. Sudah swasembada beras lagi, BBM turun berkali-kali. Guru-guru juga sudah dinaikan gajinya dan anggaran pendidikan sudah meningkat. Harga-harga pun sudah melorot turun. Kalau soal faktanya, ya silakanlah dirasakan sendiri atau jalan ke kampung sebelah, liat dan tanya apa yang terjadi.

Upaya tim kampanye SBY ini luar biasa. Sebelumnya mereka juga dengan sukses “menyisipkan” koran Jurnal Nasional sebanyak 8 halaman yang isinya wawancara  dengan SBY. Lengkap dengan “halo-halo” di halaman depan Kompas. Mungkin menarik membaca komentar salah seorang pembaca Kompas mengenai hal ini. Coba baca notes friend saya, Rita D Suradipa di Facebook. “BTW, kalo ini iklan terbaru parte demokrat yang banyak duit ituh..gw cek-cek lagi, kok gak ada tulisan advertorial. Hmm, kenapa bisa nongol di tengah edisi Kompas ya, tepat sebelum halaman Klasika…, duh, jangan sampe deh Kompas berubah jadi Jurnas…wuaaaah.., tolonk..!”  kata Rita.
Para kreatif periklanan— apalagi dengan sumber dana tak terbatas– memang luar biasa. Saya pernah melihat bagaimana sebuah iklan, bisa “mengapain” saja tampilan sebuah media. Contoh yang saya lihat kalau tidak salah, LA Times. Iklan-iklan di media tersebut bisa dibuat apa saja, termasuk melipat-lipat,
menggunting, menjadikan amplop atau apa saja yang dimungkinkan dengan bangun grafis dan kertas.
Soal kode etik, iklan yang “menipu” seolah-olah isi sebuah media– tanpa “batas api” atau tulisan iklan atau advetorial– tentu para empu redaksi bisa membuat diskusi panjang ibarat mana telor mana endog.
Begitulah. rupanya, saya masih harus dikepung oleh kampanye Pak Yudhoyono itu. Karena saya sudah terjangkit ketagihan facebook, pagi-pagi sambil mengopi dan berubi cilembu bakar (hmm…) biasanya saya menjawab, teguran teman-teman di wall. Atau sekedar melihat gaya-gaya narsis dari facebooker, yang sepertinya selalu saja foto-foto berbahagia.. ha..ha, Eh lagi asyik-asyik saya dicolek oleh teman yang saat ini sedang berada di luar negeri sana untuk chatting. Ya, ampun.. isinya pun mengobarkan betapa Pak SBY itu sangat disenangi wartawan luar negeri. “Bisa menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan lancar,” katanya antara lain. Saya sudah berusaha membelokan obrolan, pagi-pagi masak udah ngomongin politik? Tetap saja dia berkampanye… Bener-bener, sigkong diragiin.. alis tapee deh…

Belum cukup. Hari ini saya melihat “hal baru” lagi. Sahabat saya menanyakan, ada yang baru di Kompas hari ini, Selasa (3/2). Saya balik bertanya, karena Kompas di rumah saya enggak ada yang aneh. Paling juga artikel Deny Indrayana di halaman 6 (Opini) seperti dipersoalkan seorang wartawan pejuang, “Kompas semakin pro-SBY ya? Artikel Dennny Indrayana hri ini jelas-jelas pernyuataan sebagai penasehat Presiden, bukan dosen. Ironisnya, pembaca…. (disensor ya he..he)”

Sahabat saya itu menunjuk halaman depan Kompas hari Selasa (3/3).  Ups! Rupanya di  koran Kompas sudah ditempeli stiker kampanye Partai Demokrat, lengkap dengan gambar Pak SBY sedang dadah-dadah.Saya sepertinya sudah tidak tahu harus mengumpet di mana.

Jangan-jangan nanti malam saya juga bermimpi bertemu dengan Pak SBY yang sedang melambai-lambai…tangan, dadah-dadah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *