Happy Biker !

IMG_0473.JPG

WAKTU saya kecil, uwak saya adalah seorang penjual-beli sepeda. Abah Anda namanya. Seringkali dia mampir ke rumah saya karena memang kampungnya tidak seberapa jauh. Biasanya dia memang menggunakan sepeda. Seringkali sepedanya berganti-ganti. Sekedar mengopi siang atau mengobrol, mendongeng apa saja dengan kami, para keponakannya. Lain kali, dia akan meminta mencabuti ubannya. Tentu saja dengan upah. Saya tidak ingat persis, berapa rupiah jumlahnya. Tetapi setiap kali selesai kami mencabuti uban-ubannya, selalu dia bilang, tabung dulu ya nanti kalau sudah banyak baru dibayar. Tetapi kami lebih suka meminta “upah” dengan merayu dia agar membolehkan menggunakan sepeda-sepeda kesayangannya.

Waktu kecil dulu– mungkin saya masih kelas 1-2 SD– tidak tahu persis merek sepeda-sepeda yang sekarang dikenal sebagai sepeda onthel itu bermerek apa. Yang saya ingat betul, sepeda torpedo. Belakangan memang tahu, di antaranya ada yang bermerek Gazelle (?).  Bagi anak kecil cukup sulit mengendarainya. Sepeda itu tidak menggunakan rem. Jika kita ingin mengeremnya, kita harus membalik kayuhan pedalnya. Jika tidak ahli benar, bukan berhenti yang kita dapat. Tetapi malah terjungkal ! Sepeda jaman dulu, seingat saya dibagi dua jenis: sepeda awewe (perempuan) dan sepeda lalaki. Membedakannya cukup mudah. Sepeda lelaki biasanya di bagian framnye ada palang. Karena berpalang, cukup sulit bahkan tidak mungkin bagi perempuan jaman dulu– yang kebanyakan berkain atau menggunakan rok- untuk “memancalnya”.  Mereka harus menggunakan sepeda awewe itu, yang tidak berpalang.

Kami– anak-anak– tidak pernah memilih sepeda. Sepeda awewen atau lelaki, sama saja bisa kami naiki. Sepeda perempuan lebih mudah memang. Tetapi sepeda lelaki dengan kaki-kaki kecil yang tak mungkin menjangkau pedal jika kami duduk di sadel? Caranya, gampang cukup memasukan kaki ke bawah palang rangka, dan kami akan menggowes sepeda dengan miring. Ajaib. Jika nekat sedikit naik pagar dan kami memancal palang sepeda dengan resiko bagian “burung” tergesek-gesek pedal.. ha..ha. Alih-alhi bergantian dengan sepupu, setiap ada yang mencoba sepeda, anak lain sudah tak sabar untuk mendapat giliran. Atau bahkan, mereka akan berlari-lari di belakang siapa pun yang menaiki sepeda..

Abah Anda sepertinya sangat sayang kepada semua sepeda-sepedanya. Sepedanya selalu terlihat bersih dan mengkilap. Sepertinya semua part, rangka dan ban dia lap dengan bersih. Agar mengkilap tak jarang dia menggunakan minyak keletik, minyak yang dibuat dari kelapa tua. Belum ada pengkilap pabrik seperti sekarang. Tetapi untuk bahan-bahan pernekel dia sudah menggunakan brasso. Sedangkan ban-ban sepedanya mengkilap hitam diasah semir. Dia juga tahu persis bagian-bagian apa saja yang harus dijaga. Untuk menguji kekuatan sepeda, tepatnya rangkanya, dia hanya cukup menjentikan jarinya ke batang-batang sepeda. Apakah bunyinya “Ting!!” atau “Thek..!!”  ?? Dari situ dia akan tahu, apakah itu sepeda bagus atau bukan. Demikian juga dengan cat, apakah cat asli atau cat ulang. Di kampung saya, ketika sawah masih luas sepandang mata memandang, banyak sepeda yang digunakan untuk mengangkut berkarung-karung beras dari sawah ke kampung.
Abah Anda dengan antusias akan menceritakan dan membanggakan keunggulan tiap-tiap sepedanya yang dibawa.
Tetapi jangan harap, Bah Anda memberikan sepeda kesayangannya untuk itu. Memerlukan rayuan maut, untuk meminjam sepeda-sepedanya..

Kini setiap saya menggowes, selalu teringat dia. Saya senang, karena dengan sepeda-sepedanya itulah, saya bisa mengayuh dan mengedarai sepeda…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *